Perilaku Balita (1)

  1. SULIT DIATUR

Menurut Erik Erikson, pad usia 3-4 tahun anak berada pada tahap perkembangan pembentukan kemandirian. Pada tahap ini anak belajar membuat keputusan namun karena keterbatasan kemampuan kognitif, keputusan kadang tidak mempertimbangkan dampaknya, hanya berdasarkan rasa suka. Kemampuan bahasa yang masih terbatas menyebabkan anak juga belum mampu mengomunikasikan keinginannya secara persuasif. Sementara itu, perkembangan emosi yang belum matang menyebabkan anak tidak bisa mengungkapkan dan mengelola emosi saat lingkungan tidak mendukung keinginannya. Tak heran bila kemudian anak bersikap seolah sulit diatur.

Solusi:

Orangtua seharusnya senang jika memiliki anak yang mampu menentukan keinginannya di usia ini  walau terkadang kemauannya itu kurang baik. Yang harus dilakukan orangtua adalah membimbingnya agar mampu membuat pertimbangan yang lebih baik lagi. Komunikasi antara orangtua dan anak sebaiknya dilakukan di ruang dan situasi yang minim stimulus bagi anak untuk mengalihkan perhatian. Tunjukkan empati akan keinginan anak sebelum menyampaikan pertimbangan keberatan dari sudut pandang orangtua.

Apabila keinginan anak sebenarnya baik namun tidak tepat waktunya untuk merealisasikan, tawarkan solusi agar keinginan anak dan keinginan orangtua tetap tercapai. Misal, anak belum mau menggunakan baju usai mandi, ia malah asyik bermain dan meronta jika dipaksa memakai baju. Maka sebaiknya orangtua mengambil mainannya, meletakkan mainan tersebut jauh dari jangkauannya. Setelah itu katakan alasan mengapa ia harus bergegas menggunakan baju seusai mandi, misalnya agar perut tidak kembung atau sakit. Jika sakit anak justru tidak dapat bermain. Tegaskan pula bahwa semakin cepat ia menggunakan baju maka ia dapat segera bermain kembali.

2. AGRESIF (suka memukul/suka melempar dan sebagainya)  

Mengapa ada anak yang cenderung bersikap agresif? Selain karena faktor internal, faktor eksternal juga harus diperhatikan misalnya jenis tontonan, tokoh idola anak, dan perilaku orangtua/pengasuhnya yang bisa jadi role model perilaku agresif.

Solusi:

Kita dapat menggunakan metode time out saat anak berperilaku agresif. Tempatkan anak di sudut ruang yang minim stimulus, misalnya jauhkan dari teve dan barang-barang yang bisa digunakan untuk bermain. Mintalah anak untuk tetap berada di sudut ruang selama beberapa menit, misalnya 3 menit namun beri tambahan waktu jika sebelum batas waktu tersebut anak sudah bermain.

Sebelum diberlakukan time out jelaskan kesalahan anak sehingga dirinya harus menjalani time out serta harus meminta maaf atas kesalahan tersebut. Jika waktu time out berakhir, sebelum keluar dari sudut time out tanyakan pada anak mengapa ia harus berada di sudut itu tadi. Apabila anak sudah menyadari kesalahannya dan meminta maaf, peluklah anak dan katakan bahwa kita melakukan hal ini karena sayang padanya. Tidak menutup kemungkinan bahwa setelah waktu time out berakhir anak belum menyadari alasan mengapa tadi ia menjalani time out. Maka jelaskan kembali alasannya.    

3. MANJA

Anak menjadi manja karena terbiasa mendapatkan bantuan dari orangtua/pengasuh saat harus menyelesaikan tugas. Sikap orangtua yang kurang sabar menunggu anak menyelesaikan tugasnya sehingga cenderung memberi bantuan disinyalir sebagai faktor penyebab.

Solusi:

Sebaiknya orangtua mengubah sikap dengan menjadi lebih sabar saat anak sedang berproses menyelesaikan tugas. Berikan penjelasan dengan detil, sejelas mungkin dan perlahan sebelum anak diminta mengerjakannya. Bila perlu disertai contoh terlebih dahulu. Berilah pengertian dan alasan mengapa anak harus bisa menyelesaikan tugas tersebut secara mandiri kemudian beri motivasi agar ia mau mengerjakannya.

Berikan pujian terhadap apapun hasil usaha anak. Sebaiknya orangtua menunda memberi kritik atau saran di awal-awal usaha anak. Jika anak memilih untuk tidak mau mengerjakan tugas jika tidak mendapatkan pertolongan, cobalah beri pengertian lagi sebelum meninggalkannya. Mengabaikan anak merupakan salah satu bentuk konsekuensi yang bisa diberikan kepada anak.

4. MALAS

Beberapa contoh perilaku malas yaitu enggan berangkat ke playgroup, malas mandi, malas merapikan mainan yang sudah dipakai, malas meletakkan baju kotor pada tempatnya. Faktor penyebab menjadi malas ada banyak, yaitu rasa bosan terhadap kegiatan yang dihadapi, ingin mendapat perhatian dari orangtua, belum memahami mengapa hal tersebut harus dilakukan dan lingkungan yang selalu membantu anak untuk mengerjakan kegiatan tersebut. Berbeda objek malas tentu saja berbeda pula cara mengatasinya.

Solusi :

Jika anak malas berangkat ke PG, tanyakan mengapa ia malas. Apakah bosan/jenuh/lelah, ada peristiwa di PG yang kurang menyenangkan ataukah anak merasa ingin menghabiskan waktu dengan orangtua. Memaksa anak untuk berangkat PG dapat memberi dampak negatif bila tidak menyelesaikan faktor penyebabnya. Bertanya pada guru untuk mencari tahu penyebab ia malas berangkat PG sebaiknya juga dilakukan orangtua.

Jika anak malas melakukan kegiatan di rumah, seperti malas mandi, malas erapikan mainan atau meletakkan baju kotor pada tempatnya, maka orangtua dapat memodifikasi kegiatan tersebut menjadi lebih menarik. Misal  ajak anak memasukkan baju kotor ke dalam ember seperti sedang bermain basket. Persuasif dari orangtua agar ia mau melakukan kegiatan dengan sukarela harus selalu dilakukan dibanding cara kekerasan atau memberi hukuman. Memberi konsekuensi jika tidak melakukan tugas juga dapat dilakukan, misalnya jika anak menolak merapikan mainan yang telah digunakan, mainan tersebut akan diberikan pada orang lain. Konsekuensi berbeda dengan hukuman.  

4 KUNCI UTAMA

Sebenarnya berapa pun usia anak, mereka telah memiliki kemampuan untuk diajak berdiskusi dan dapat memahami apa yang orangtua komunikasikan. Anak  butuh konsistensi perilaku dan sikap tegas dari orangtua. Jadi, kunci utama saat menghadapi perilaku anak yang sulit:

  1. Orangtua tetap harus bersikap tenang, berkepala dingin, dan menyadari bahwa perilakunya dilakukan karena keterbatasan psikologis (kognitif, emosi, bahasa, motorik, sosial) atau bukan bermaksud untuk membuat orangtua kesal.
  2. Dekati ia, berada di depan anak dan mengambil posisi setara dengan tinggi badannya.
  3. Selalu memberikan respons yang konsisten saat anak menunjukkan perilaku sulit, baik di rumah maupun di tempat umum.
  4. Beri reward bila anak berhasil berperilaku sesuai  yang diharapkan dan beri konsekuensi jika anak mempertahankan perilaku yang kurang baik tersebut.

DAMPAK BILA TAK SEGERA DITANGANI

Bila tidak segera ditangani, ada beberapa risiko yang mungkin muncul, yaitu:

à Anak yang pemalas di kemudian hari cenderung kurang memiliki motivasi berprestasi, tergantung pada orang lain, tidak memiliki rencana dalam hidup, kurang bertanggung jawab.   

à Anak yang manja di kemudian hari cenderung kurang mandiri, kurang bisa memotivasi diri saat mengalami kegagalan, kurang mampu mengambil keputusan, mudah merasa tertekan dan stres. 

à Anak yang penakut di kemudian hari cenderung kurang memiliki motivasi berprestasi, kurang berani mengambil keputusan, kurang memiliki inisiatif. 

à Anak yang agresif cenderung akan mengalami kesulitan untuk beradaptasi dengan lingkungan, memiliki kontrol diri yang lemah, terlibat dalam kegiatan yang membahayakan dirinya, cederung tidak memiliki empati dan melanggar peraturan.

à Anak yang suka merusak memiliki kecenderungan yang sama dengan anak yang agresif.