Waspadai, Orangtua Depresi Bisa Mengganggu Mental Anak

Siapapun pasti tak mau mengalami depresi .  Namun, kondisi ini bisa terjadi pada siapapun. Mungkin kita pernah mengalami depresi, sebagai orang tua yang memiliki tanggung jawab besar untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Kita mendapatkan tekanan sehingga menjadi depresi.

Banyak orang menganggap remeh dan mengabaikan tanda-tanda depresi. Padahal harus segera ditangani agar tidak berdampak negatif ada orang-orang terdekat. Apalagi kita sebagai orang tua yang sudah memiliki anak untuk jangan pernah memandang dengan sebelah mata soa depresi. Pasalnya, ini bisa berdampak buruk terhadap kesehatan mental anak Anda.

Berikut adalah dampak terhadap anak bila orang tua mengalami depresi:

  1. Bayi yang depresi akan mengalami beberapa gangguan tidur, susah makan dan minum ASI, sering menangis dan gangguan pertumbuhan di antaranya kurang berat badan. Anak balita memiliki gangguan perilaku, emosi yang meledak-ledak, gangguan mood, hiperaktivitas (ADHD), dan gangguan defisit atensi. Selain itu, untuk anak remaja sangat berisiko mengalami gangguan kecemasan, gangguan obsesif kompulsif (OCD), gangguan mood, dan kecanduan (rokok, alkohol, dan obat-obatan).  

Pada tahun 2011 penelitian yang diterbitkan dalam jurnal internasional Pediatrics menunjukkan bahwa kemungkinan anak mengalami gangguan perilaku dan emosi naik dua kali lipat jika sosok ayah menderita depresi. Sementara, kalau ibunya yang menderita depresi, risiko anak mengalami gangguan perilaku dan emosi mencapai tiga kali lipat. Kalau kedua orangtuanya depresi, kemungkinan tersebut meroket hingga empat kali lipat.

  • Prestasi anak di sekolah menurun. Pada 2016, studi yang dipublikasikan oleh Journal of the American Medical Association Psychiatry membuktikan bahwa depresi orangtua berakibat buruk pada prestasi anak di sekolah. Hal ini bisa disebabkan oleh dua hal yaitu :
  1. gangguan sistem saraf pusat (neurodevelopmental problem) sehingga kemampuan berbahasa anak menjadi terbatas mengakibatkan anak kesulitan mengikuti pelajaran. Sering kali anak menjadi tidak naik kelas.
  2. Anak sulit konsentrasi dan tidak punya waktu belajar karena disibukkan dengan berbagai pekerjaan rumah tangga atau mengurus adiknya yang masih kecil. Orang tua yang depresi membuat mereka terlantarkan dan tidak terurus.
  • Anak menjadi kurang percaya diri dan memandang rendah dirinya sendiri. Ini sebagai dampak dari anak yang sering menjadi sasaran depresi orang tua. Orangtua bersikap negatif dan selalu mengkritik anak, sehingga anak memiliki pola pikir yang negatif. Tak jarang hal ini yang menjadikan anak menyalahkan dirinya sendiri bahwa orang tua depresi karena dirinya. Kondisi seperti ini menyebabkan anak menjadi sulit berteman dan mencapai cita-citanya untuk mendapatkan pekerjaan atau pasangan. Mereka memilih untuk menyendiri dan memiliki dunia mereka sendiri.
  • Depresi menurun secara genetik ke anak. Lingkungan keluarga yang tidak sehat. Orang tua yang depresi dan sering bertengkar bisa menjadi pemicu anak ikut depresi secara tidak langsung. Alhasil, anak lahir dengan kondisi sudah terganggu mentalnya. Ini sangat berbahaya bagi perkembangan anak nantinya.

Meski demikian, bisa kita usahakan untuk ditanggulangi sebelum terlambat dengan cara menangani depresi orang tua terlebih dahulu dengan berkonsultasi pada ahlinya. Setelah itu, barulah kita menangani anak dengan berkonsultasi pada guru konseling di sekolah dan psikolog anak. Mengapa demikian?  Karena anak akan mengalami perubahan dengan cepat dissaat orang tua sudah lebih baik dalam mengontrol emosi dan depresinya. etiap apa yang terjadi pada orang tua akan menjadi contoh pada anak-anaknya.

Ilustrasi : freepik.com