Pentingnya Kolaborasi Mengasuh Anak (1)

Coba Anda tebak, siapa yang paling bertanggung jawab dalam pengasuhan anak? Mungkin ada yang menjawab: ibu. Jawaban yang benar adalah bahwa pendidikan dan pengasuhan anak itu merupakan tanggung jawab bersama, antara ibu dan ayah.

Ya, keduanya harus berkolaborasi memberikan yang terbaik, baik dalam hal pemberian makanan atau asupan bergizi seimbang, stimulasi, menerapkan pola asuh dan sebagainya, sehingga anak dapat bertumbuh dan berkembang dengan optimal. Nah, untuk mencapai tujuan itu tentunya ayah dan ibu perlu bahu-membahu.

Dalam bahasa lain, kerja sama antara ibu dan ayah dalam membesarkan si Kecil disebut dual parenting.

Dual parenting hanyalah salah satu dari poin penting dalam upaya mencapai pengasuhan ideal. Faktor lainnya yang juga perlu dipahami adalah kesiapan menjadi orang tua, adanya kesepakatan tujuan pengasuhan, komunikasi yang hangat, positif dan efektif, penanaman nilai-nilai agama, memahami karakter dan kebutuhan anak serta adanya aturan yang disepakati dalam keluarga.

BERBEDA PENDEKATAN

Meski ayah dan ibu memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengasuh sang buah hati, akan tetapi memiliki peran yang masing-masing berbeda bagi anak. Ya, ayah dan ibu tentunya memiliki caranya tersendiri dalam mengasuh dan mendidik anak. Perbedaan peran ini justru akan memberikan pengalaman yang bervariasi bagi anak.

Yang jelas, pendekatan yang berbeda antara ayah dan ibu pada si Kecil tentunya akan membawa dampak positif. Setiap orangtua pastinya memiliki cara unik dan berbeda dalam berinteraksi dengan anaknya. Hal ini akan menumbuhkan pemahaman bahwa setiap orangtua merupakan individu yang terpisah dan berbeda.

BERBAGI PERAN

Sekali lagi, meski sama-sama bertanggung jawab terhadap tumbuh kembang anak, peran antara ayah dan ibu tidaklah sama.

Nah, berikut “pembagian” tugas dan peran masing-masing.

Peran ibu :

  1. Menumbuhkan perasaan mencintai dan mengasihi pada anak melalui interaksi yang melibatkan sentuhan fisik dan kasih sayang.
  2. Menumbuhkan kemampuan berbahasa pada anak melalui kegiatan bercerita dan mendongeng, serta melalui kegiatan yang lebih dekat dengan anak, yakni berbicara dari hati ke hati.
  3. Memberikan toilet training kepada anak perempuannya, yaitu bagaimana menggunakan toilet jongkok maupun duduk untuk BAK dan BAB serta cara membersihkan diri usai menggunakan toilet.
  4. Mengajarkan tentang peran jenis kelamin kepada anak perempuan, tentang bagaimana harus bertindak sebagai perempuan dan apa yang diharapkan oleh lingkungan sosial dari seorang perempuan.
  5. Ibu berperan penting dalam hal pelaksana harian pendidikan, penuh cinta dan ketulusan, menjaga keharmonisan dan sinergi, penegak moralitas dan nurani, femininitas, pembangun hati dan rasa.
  6. Ibu merupakan guru pertama bagi anak. Ibu mengajarkan pelajaran-pelajaran berharga untuk anaknya mulai dari anak lahir, sampai anak tumbuh dewasa.
  7. Ibu adalah pelindung bagi anak. Sejak lahir, anak sudah merasakan kehadiran ibu, sentuhan ibu, dan suara ibu yang semuanya membuat anak merasa aman. Saat anak menangis biasanya yang dicari anak adalah ibunya, ini merupakan reaksi pertama dari segala sesuatu yang mengganggunya karena ibu merupakan tempat anak untuk merasa aman dan nyaman. Anak merasa terlindungi bila di dekat ibunya. Ibu melindungi anak dari bahaya lingkungan, dari orang asing, dan dari diri mereka sendiri.

Saat anak mulai tumbuh dewasa, ibu tetap menjadi pelindungnya, lebih dari pelindung dalam segi emosional. Ibu selalu mendengarkan keluhan anaknya dan selalu ada untuk memberikan kenyamanan saat anak membutuhkannya. Ibu selalu ingin anaknya merasa aman. Jika anak dapat mempercayai ibu, anak akan percaya diri dan memiliki keamanan emosional. Jika anak tidak dapat menemukan keamanan, biasanya dapat menyebabkan anak mempunyai banyak masalah emosional dan psikologis.

  • Ibu merangsang mental dan emosional

Ibu selalu berinteraksi dengan anaknya, melalui permainan atau percakapan, yang merangsang kemampuan kognitif anak. Bahkan permainan bentuk fisik dengan ibu tetap mengikuti aturan yang dibutuhkan anak untuk mengkoordinasikan mental tindakan mereka. Ibu yang membuat  mental anak kuat untuk menghadapi dunia luar ketika ia pertama kali meninggalkan rumah untuk sekolah.

  • Sebagai seorang ibu dan pengasuh utama di awal-awal kehidupan anak, ibu menjadi orang pertama yang membuat ikatan emosional dan keterikatan dengan anak. Anak akan belajar emosi pertamanya kepada ibu. Hubungan ibu dan anak yang terbentuk selama tahun-tahun awal akan sangat mempengaruhi cara anak berperilaku dalam pengaturan sosial dan emosional di tahun-tahun berikutnya. Seorang ibu dapat dengan mudah memeluk anak dan berbicara tentang perasaan dengan anaknya sehingga ibu lebih bisa untuk mengajarkan anak bagaimana menangani emosi yang lebih baik.
  • Seorang ibu adalah orang yang mengerti kebutuhan dan suasana hati anaknya. Ibu tahu apa keinginan anaknya bahkan ketika anak belum berbicara kepadanya. Sebagai seorang ibu, seberapa cepat ibu bereaksi terhadap kebutuhan anak dan bagaimana ibu mencoba untuk mengurus kebutuhan anak akan banyak mengajarkan anak tentang memahami orang lain dan kebutuhan emosional.
  • Seorang ibu harus menjaga keseimbangan antara memberi aturan ketat dan memanjakan anak. Ibu harus menanamkan rasa tanggung jawab pada anak. Ibu adalah orang yang membuat anak mempelajari pelajaran pertama hidupnya. Ibu mengajarkan disiplin. Ibu adalah orang yang membuat anaknya memahami apa yang dikatakannya, kemudian anak belajar mengikuti perintah ibu dengan perlahan. Ibu mengajarkan anak makan, mandi, dan mengajarkan kepadanya bagaimana mengekspresikan kebutuhannya. Ibu juga yang mengajarkan bagaimana mengelola dan berkomitmen dengan waktu, dengan cara mengajarkan anak melakukan rutinitas dalam kehidupan sehari-hari. (hil)

Foto: freepik.com