Membangun Karakter Anak Bertanggung Jawab

Moms, tidak ada manusia yang terlahir dengan karakter tanggung jawab. Karakter tanggung jawab harus ditanamkan, dipupuk, dievaluasi, dst, melalui proses yang berkesinambungan. Ketika individu ‘lulus’ untuk menjalankan tanggung jawab dalam skala kecil, ia kemudian akan dipercayakan tanggung jawab dalam skala yang semakin besar. Itulah fitrah perjalanan manusia.  Sebagai pengemban tanggung jawab hingga akhir hidupnya.

Tanggung jawab adalah bentuk kesadaran dan perilaku moral yang teramat penting. Orang yang bertangung jawab adalah orang yang memiliki kesadaran bahwa ia wajib menanggung segala sesuatu, yang telah dipercayakan kepadanya atau yang merupakan dampak dari pilihan dan keputusannya.

Di sepanjang kehidupan, setiap individu perlu memahami bahwa ketika ia mengambil sebuah keputusan, ada konsekuensi yang melekat pada keputusan tersebut. Tidak semua orang besar mampu bersikap matang dalam menerima konsekuensi dari keputusannya. Misalnya, memutuskan untuk mencicil mobil, namun tidak disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga cicilan tertunggak; atau memilih sebuah jurusan pendidikan, namun di tengah jalan merasa tidak betah karena merasa sulit, lalu meninggalkan begitu saja program pendidikannya.

Tanggung jawab juga melekat dengan kepercayaan.

Semakin seseorang dipercaya, maka semakin besar tanggung jawab yang akan diberikan kepadanya. Ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya, maka karakter pengenalian diri, ketekunan, komitmen, kepercayaan diri juga turut dilatih. Contoh, ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya sebagai pengendara dan pemilik sepeda motor melalui proses pendidikan yang benar, maka ia juga akan dilatih bagaimana mengendalikan emosinya ketika disalib pengendara motor lain, ketenangan dalam mengendarai motor, komitmen untuk selalu menjaga kebersihan motornya, dll.

Intinya karakter tanggung jawab sangat penting, oleh karena itu orang tua, sebagai pihak utama dan pertama yang ‘dititipkan’ anak,  berkewajiban untuk membangun karakter bertanggung jawab anak-anaknya.

Kapan waktu terbaik untuk mulai membangun karakter tanggung jawab?

Semakin dini sebuah perilaku moral dibangun, maka akan semakin tertanam. Melatih tanggung jawab dapat dimulai sejak anak sudah cukup bisa berkomunikasi dengan orang tuanya, biasanya ketika menginjak usia 3 tahun. Cara belajar yang khas pada anak-anak usia balita adalah dengan cara melihat dan melakukan.

Berbeda dengan anak yang lebih besar, anak balita tidak perlu diyakinkan terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Ia akan langsung mencontoh saja. Oleh karena itu cara terbaik untuk membentuk kebiasaan tanggung jawab anak adalah dengan cara mencontohkannya berulang-ulang, dan membimbing anak untuk bersama-sama melakukannya. Misalnya, ketika selesai bermain bersama, orang tua memasukkan barang-barang ke kotak mainan bersama-sama dengan anak.

Anak usia balita juga akan cepat belajar jika orang tua membentuk pola atau sistem yang konsisten. Oleh karena itu sangat penting untuk orang tua memilihkan ruang main yang tetap, jam main yang sama, kotak penyimpanan mainan yang sama. Ketika anak secara berulang-ulang memperhatikan  ada  satu pola yang konsisten, maka akan terbentuk pola tanggung jawab, yang akan diteruskannya hingga ke usia selanjutnya.

Ketika anak di usia balita hingga TK, biasanya anak dilatih bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan fisik pribadi, misalnya, menggosok gigi setiap habis makan, mengganti baju, menghabiskan makan yang dimintanya, mandi sendiri, tidur sendiri.

Orang tua dalam hal ini perlu ekstra sabar dan tidak perlu terlalu menuntut kualitas dari kegiatan tersebut. Misalnya, orang tua perlu bertoleransi jika ketika makan belum bisa terlalu bersih, dan tetap mengapresiasi kemauan anak untuk makan sendiri. Lambat laun, seiring anak meningkat ke usia SD, orang tua dapat melatih tanggung jawabnya terhadap hasil/kualitas dari kegiatan mandiri anak.

Ketika anak beranjak ke tingkat SD awal, orang tua dapat melebarkan tanggung jawab anak untuk memelihara barang-barang pribadinya. Misalnya, meletakkan tas sekolah dan sepatu dengan rapi, memasukkan baju-baju ke lemarinya sendiri dengan rapi. Anak usia SD sudah bisa dilatih tanggung jawabnya untuk lebih memperhatikan kualitas kegiatannya. Misalnya tidak hanya mengenakan baju seragam sekolah sendiri, namun juga mengenakannya dengan rapi.

Di tingkat SD awal, orang tua dapat mengedukasi anak bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung anak bila tidak melakukan kewajibannya. Misalnya, jika melupakan PR, lupa membawa bekal. Biasanya pihak sekolah juga tidak mengijinkan orang tua untuk menyusulkan barang-barang sekolah yang tertinggal. Oleh karena itu anak-anak usia SD sudah bisa diedukasi untuk lebih inisiatif dalam memeriksa ulang peralatannya kembali.

Ketika anak menginjak SD kelas 3, anak sudah bisa dilatih untuk bertanggung jawab dalam membuat perencanaan kegiatan jangka pendek. Misalnya dalam beberapa hari ke depan, untuk persiapan ulangan yang bersamaan dengan jam-jam kursus lainnya, latih anak untuk membuat chart sederhana yang berisi jadual kegiatan.

Semakin anak menginjak SD akhir, semakin anak mesti dilatih untuk menanggung konsekuensi dari tanggung jawab pribadinya. Biasanya anak SD di tingkat akhir sudah meminta fasilitas tertentu, seperti alat main game, atau hp. Didik anak bahwa ada kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan bersama dengan fasilitas tersebut.

Jika si anak tidak dapat menjaga kepercayaan tersebut, maka akses terhadap fasilitas tersebut seharusnya dikurangi atau dicabut. Konsekuensi yang harus dipikul anak ini harus dikomunikasikan sejak awal, sebelum fasilitas itu mulai dipergunakan oleh anak. Buat aturan main yang jelas juga mengenai jam, waktu, tempat penggunaannya. (hil)

Foto: freepik.com