Kiat Asah Rasa Peduli Anak (2)

Berikut ini hal-hal yang perlu dilakukan orangtua:

1.Orangtua peduli, anak peduli:

Dimulai dari orangtua yang selalu berusaha menunjukkan sikap peduli kepada anak dan keluarga. Hal ini kita tunjukkan dengan sikap berusaha memahami perasaan, sikap, menghargai usaha anak, kepribadian anak dan apa yang anak sukai dan tidak sukai tanpa melakukan dugaan atau asumsi yang sebenarnya tidak kita tahu. Sehingga anak merasa diterima apa adanya dan merasa dihargai. Jika anak merasa dihargai dan kebutuhan emosinya terpenuhi, dia pun akan mampu menghargai orang lain. Upaya ini akan mengembangkan sikap peduli anak.

2.Jadikan sikap peduli sesama sebagai prioritas utama:

  1. Terkadang orangtua selalu berkata bahwa yang penting kamu happy, anak Bunda happy. Saat ini usahakan untuk menyampaikan: Yang penting anak Bunda anak baik dan merasa happy kalau bisa berbuat baik. Ajarkan anak bahwa selalu ada dua pilihan yaitu baik dan sangat baik. Sangat baik kalau semua pihak happy.
    1. Biasakan untuk berdialog dengan anak tentang apa yang ia lakukan di sekolah. Bukan hanya tentang pelajaran, tetapi apa yang ia lakukan ketika bermain, apa yang membuatnyahappy dan tidak happy.  Kalau tidak happy apa yang ia lakukan dsb.
    1. Dengan melakukan hal di atas, anak diasah kecerdasan emosinya dan dilatih untuk terbiasa menyampaikan perasaan tanpa takut disalahkan. Usahakan orangtua untuk menjadi pendengar yang baik. Tarik napas dan keluarkan napas supaya bisa tetap tenang. Ketika kita mendengar dan menarik napas maka kita akan bisa lebih memahami perasaan terdalam anak dengan baik dan pesan yang disampaikan yang tidak terucapkan dengan kata-kata anak.

3.Mulailah pesan yang disampaikan dari sisi  “Saya”:

Pesan dari sisi “saya” adalah menyampaikan kepada anak bahwa ini yang Bunda rasakan dan pikirkan tanpa menyalahkan anak. Misal: “Bunda merasa sakit kaki karena tadi pas Adek marah nendang Bunda. Kemudian sampaikan:” Lain kali kalau marah Bunda harap Adek tidak nendang Bunda lagi. Marah boleh tetapi tetap harus baik sama Bunda, karena Bunda sayang banget sama Adek.”

4.Validasi perasaan negatif anak:

Kebanyakan orangtua ingin anaknya happy. Hanya sebaiknya kita lakukan dengan cara yang baik, tidak memperbaiki perasaan anak yang sedang kecewa, sedih, tertekan dan marah.  Misalnya melarang untuk merasakan emosi negatif tersebut tanpa digali apa penyebabnya. Setiap emosi yang dirasakan, ada pikiran yang mengikutinya.

Misal, perasaan sedih karena apa yang anak inginkan belum bisa didapatkan. Jadi ketika anak sedih hindari untuk memperbaiki, misal:”Sudah jangan sedih kan ada Bunda sudah pulang kantor seharusnya Adek senang dong!” Seharusnya: “Bunda ngerti Ade sedih, apa yang membuat Ade sedih, apakah karena Bunda larang untuk nonton teve/main ipad?” Dengan melakukan validasi, Anda membantu anak untuk bisa mengelola emosi negatif dengan baik.

Usahakan menyampaikan ulang apa yang anak jelaskan atau paraphrase,  misal:”Dari yang tadi Ade sampaikan, Kiran teman Ade itu nunggu lama tapi belum dijemput terus nangis ya? Apa betul pemahaman Bunda?”

Selalu untuk menggali satu langkah sebelumnya misal:”Sebelum Kiran nunggu jemputan lama, apa yang kalian berdua lakukan?” Karena mungkin saja ada sesuatu yang anak belum ceritakan karena merasa takut. Hindari untuk marah.  Ingat dari setiap kejadian selalu ada hal yang bisa anak pelajari. Marah bukan cara baik dalam mengajarkan kecerdasan emosi anak.

5. Bermain “Pretend play” pura-pura/role play/bermain peran:

Misal ,dengan boneka Anda jadi teman anak dan jadi teman merebut mainan, atau di taman bermain tidak mau main ayunan bergantian. Tanyakan bagaimana perasaan Ade ketika teman Ade ingin terus main ayunan? Apa yang bisa dilakukan supaya teman Ade mau bergantian main sama Ade? (hil)

Foto: freepikcom