Kiat Asah Rasa Peduli Anak (2)

Tiga hal penting lain dalam mengajarkan anak untuk memiliki rasa peduli, yaitu:

  • Pamit dengan baik ketika mau berpergian:

Sangat penting untuk para orangtua yang bekerja untuk membangun perasaan nyaman ketika meninggalkan anak di rumah misal dengan pengasuh kepercayaan Anda. Ketika Anda yakin bahwa anak ada di tangan yang tepat dan nyaman maka anak pun merasa tenang. Berusaha untuk selalu pamit ketika Anda pergi kemana pun tanpa anak hindari pergi diam-diam karena alasan tidak tega meninggalkan anak. Hal ini sangat tidak baik sekali untuk perkembangan anak. Sampaikan dengan tegas dan penuh kasih sayang kalau Anda harus pergi bekerja dan adik di rumah sama Oma atau mbak yang sayang sama adik dan Bunda nanti telepon dsb.

  • Pikirkan kembali untuk langsung meminta anak “minta maaf”:

Ketika ada konflik misalnya anak yang merebut mainan atau jatuh karena didorong, kebanyakan orangtua atau pendidik langsung meminta anak untuk minta maaf tanpa membahas apa yang dirasakan anak yang menjadi korban misalnya. Meminta maaf merupakan sikap baik hanya perlu diubah cara kita mengajarkan ke anak karena meminta maaf saja tidak cukup . Mendidik anak untuk belajar memperbaiki diri dan berempati. Hal ini bisa dilakukan jika anak mengetahui dampak dari sikap yang ia lakukan. Misal, ketika Sandra merebut mainan Siera, Anda harus mengajak Sandra untuk fokus pada eksperesi muka Siera, Sandra lihat muka Siera sepertinya Siera merasa sedih yah? Apa yang bisa Sandra lakukan supaya Siera merasa happy lagi? Stimulasi ini akan mengajarkan anak bahwa ada hubungan antara sikap/actionyang ia lakukan dengan reaksi dari apa yang ia lakukan atau dampaknya. Setelah tahap ini dirasakan cukup dan anak memahami dengan baik kalau Siera sedih dan berusaha untuk membantunya agar merasa lebih nyaman, barulah ajarkan anak untuk selalu minta maaf.

Sampaikan ragam emosi:

Biasakan Anda untuk menyampaikan ragam emosi dengan menggunakan perasaan. Misal, Bunda merasa sedih bukan Bunda sedih dan Ade sepertinya merasa kecewa bukan Ade kecewa yah? Karena perasaan itu bagian dari sistem tubuh kita bagian dari otak kita dan antara otak dan tubuh saling berhubungan. Biasakan baik Anda maupun anak untuk selalu mampu mengekspresikan emosi baik negatif maupun positif. Misal:”Bunda sedang merasa stres karena minggu ini ada tiga dead line yang harus Bunda selesaikan dan Bunda harus bisa mengerjakan tepat waktu dan sekarang Bunda mau jalan kaki dulu biar bisa menenangkan perasaan Bunda”

Dampak bila ada kurang kepedulian:

  • Anak akan bersikap kasar dan menjadi destruktif karena emosi negatif anak tidak terlatih untuk dipahami atau tidak dilakukan validasi dan perasaan anak selalu diperbaiki oleh orangtua;
  • Ketika emosi negative tidak dipahami maka emosi akan tersimpan di dalam  fisik dan jiwa anak. Hal ini akan menganggu perilaku anak atau menghambat perkembangan fisik dan emosi;
  • Menurunkan daya tahan tubuh anak;
  • Anak menjadi tidak bisa bekerja sama dengan baik;
  • Mudah dipengaruhi orang lain karena ingin dirinya diterima oleh lingkungan misal jadi ikut-ikutan tawuran;
  • Bisa menjadi pelaku dan korban bully;
  • Bersikap egois, mau menang sendiri dan mau menang apapun caranya yang penting menang. (hil)

Foto: freepik.com