Kenapa Sikap Anak Keras Kepala?

Adakalanya seorang anak kukuh dengan keinginan atau pendapat pribadinya. Padahal ibu tak setuju dengan hal itu. Misalnya, ketika ia diajak pergi ke suatu undangan pernikahan, anak berkeinginan memakai baju kaus bergambar kartun favoritnya. Padahal, ibu sudah menyiapkan beberapa alternatif kostum untuk dipililh si kecil yang lebih cocok untuk dikenakan ke acara itu. Walau sudah diberi tahu,  tetap saja ia ngotot dengan pilihannya.

Tak terkecuali, hal-hal kecil pun bahkan bisa menjadi masalah besar dan  berbuah ‘pertengkaran’ antara ibu dan anak. Tak sedikit orangtua yang kemudian melabel dengan sebutan anak sulit, suka menantang aturan, suka melawan, atau anak keras kepala yang dalam bahasa ilmiah disebut strongwilled child.

Sikap seperti itu umumnya ditunjukkan anak usia 2-5 tahun.  Ini adalah fase yang sangat alami pada masa pertumbuhan kejiwaan anak. Ia berada pada fase dimana mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dari orang-orang dewasa terutama orangtuanya.

Ada beberapa kemungkinan faktor pemicu yang membuat anak berperilaku keras kepala, di antaranya adalah:

  1. Boleh jadi anak meniru perbuatan orangtuanya yang juga keras kepala atau anak sering menyaksikan orangtuanya bertengkar.
  2. Orangtua terlalu memanjakan, selalu memberikan apa yang diinginkannya. Nah, ketika suatu saat keinginan tersebut tidak dipenuhi, tentu anak akan memprotes dan melawan.
  3. Kurangnya ikatan kasih sayang dan pengertian antara orangtua dan anak.
  4. Orangtua terlalu membiasakan anak patuh pada sesuatu secara fanatik.
  5. Anak terlalu sering disuruh mengalah, tanpa memberi pengertian yang dapat membuatnya mengerti.

PRIBADI BERSEMANGAT

Terlepas dari label negatif yang disandang sang anak ini, menurut Nicky sebenarnya anak yang berkemauan keras seperti itu adalah pribadi yang  bersemangat dan berani. Ia memiliki integritas yang tak mudah terombang-ambing. Ya, pasti ada plus-minusnya.

             Ada beberapa ciri anak yang tergolong berkemauan keras, yaitu:

  1. Lebih aktif. Misal, ia mampu berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi dan berputar lebih lama
  2. Lebih tidak sabaran. Ia tidak suka berbagi dan bergantian
  3. Lebih impulsif. Ia sulit mengontrol dorongan sehingga ingin mendapatkan sesuatu secara cepat.
  4. Lebih tidak mau nurut. Misal, ia akan lari menuju keramaian, melihat orangtua sekilas, kemudian berlari lagi ke jalanan.
  5. Lebih keras sikapnya. Ia mudah marah. Juga ia tetap menangis walau keinginannya sudah dipenuhi.
  6. Lebih intense. Kalau sedang senang tampak gembira sekali. Begitupun kalau sedang sedih tampak sedih sekali. Begitu juga kalau marah.
  7. Lebih sensitif. Perasaannya lebih mudah tersinggung atau tersakiti.

Plus dan minus lain dari strongwilled child adalah:

  1. Bersemangat tinggi. Saat ia mengingkan sesuatu, ia berupaya keras untuk mendapatkannya. Ia memiliki keyakinan untuk mampu meraihnya.
  2. Sulit diatur. Ia memilih keinginannya sendiri dan merasa bertanggungjawab akan dirinya sendiri sehingga tidak suka diatur.
  3. Jika diasuh dengan sensitif, ia tumbuh menjadi sosok yang hebat, mampu memotivasi sendiri dan terarah. Ia mengejar impiannya dan hampir selalu tahan banting terhadap tekanan teman sebaya. Selama orangtua menahan diri untuk tidak mematahkan keinginannya maka anak berkemauan keras dapat menjadi pemimpin.
  4. Anak berkemauan keras seringkali ingin belajar sendiri daripada menuruti apa yang orang lain katakan. Ia angat ingin ‘in-charge’ dalam urusannya dan kadang ingin merasa benar diatas segalanya.
  5. Anak berkemauan keras memiliki integritas sehingga tidak mudah goyah pendiriannya.

(hil)

Foto: freepik.com