Kenapa Anak Suka Melamun?

Anak Anda suka melamun? Nah, berikut ini beberapa hal yang kemungkinan menjadi pemicu atau penyebab si Kecil sering melamun:

  1. Mengembangkan Daya Imajinasi

Dari kajian psikologi, pada rentang usia 4-6 tahun, anak sedang mengalami perkembangan kemampuan berpikir. Di usia prasekolah ini, umumnya anak  mulai mampu melakukan simbolisasi atau memahami sebuah simbol dan memaknainya sebagai bagian dari suatu hal atau peristiwa. Nah, hal itulah yang kemudian menunjang kemampuan imajinasi anak.

Jadi, salah satu faktor kenapa anak jadi suka melamun adalah bahwa sebenarnya ia sedang mengembangkan kemampuan imajinasi. Melamun sebagai bagian imajinasi umumnya terjadi saat ada stimulus. Misal, habis menonton film lalu berimajinasi seolah-olah ia berada dalam film tersebut dengan cara melamun.

Selain itu, ungkapan dari imajinasi dari contoh tersebut bisa berupa hal lain, misalnya anak kemudian mengambil mainan dan memainkannya berdasarkan imajinasi yang berkembang dalam pikiranya. Atau, ia kemudian menggambil kertas dan pensil serta pensil warna, lalu menggambarkan sesuatu yang sedang diimajinasikan.

Melamun karena sedang mengembangkan imajinasi tentu saja positif. Justru melamun dalam konteks berimajinasi dapat menjadi sarana berpikir kreatif bagi anak dan perlu terus distimulasi atau dikembangkan sehingga optimal.

Lalu, apa yang perlu dilakukan orangtua? Ini di antaranya:

-Beri tahu anak dengan bahasa yang mudah dipahaminya bahwa melamun untuk mengimajinasikan sesuatu tidak boleh dilakukan dalam situasi tertentu, misalnya saat ia sedang beraktivitas di sekolah. Minta anak untuk mengikuti kegiatan kelas atau sekolah seperti teman-teman lainnya. Ajak ia untuk bermain dengan teman-temannya di area bermain sekolah.

-Untuk menyalurkan imajinasinya, daripada hanya melamun, sebaiknya beri atau sediakan anak media yang dapat memvisualisasikan imajinasinya. Misalnya, sediakan kertas gambar, lego, ataupun software kreativitas.

-Tak kalah penting, berikan informasi atau pemahaman pada si Kecil bahwa tak selalu yang diimajinasikan itu dapat diaplikasikan dalam dunia nyata. Misalnya, anak usai nonton film kartun yang penuh nuansa imajinasi. Tentu tayangan cerita yang ditontonnya itu sebatas karya film yang tidak nyata, hasil pengembangan imajinasi. Contoh konkret, mobil atau kereta api bisa saling berkomunikasi atau mengobrol seperti manusia.

2. Si Prasekolah Bosan dengan Aktivitasnya

Boleh jadi anak melamun sebagai bentuk ‘protes’ atas kebosanan yang menghantuinya. Ia malas bermain atau melakukan permainan yang itu-itu saja. Ia bosan dengan rutinitas sehari-hari yang monoton dan sebagainya. Karena itulah, ia memilih untuk melamun. Mager (malas gerak) kalau istilah zaman sekarang. Dampaknya, anak jadi malas dan tak mau melakukan hal lainnya.

Karena itulah, orangtua perlu melakukan berbagai upaya, di antaranya:

  • Ketahui apa yang membuat ia merasa bosan. Gali lebih jauh kenapa ia bosan dengan kegiatan atau permainan tersebut. Apakah karena selalu kalah dan tak pernah menang, apakah permainannya kurang menyenangkan atau orang/teman yang terlibat dalam permainan itu kurang asyik sehingga menjadi membosankan.  
  • Ajak si prasekolah untuk melakukan aktivitas yang menyenangkan. Boleh tanyakan, kegiatan menarik apa yang ingin ia lakukan, siapa saja yang ingin ia libatkan dan sebagainya. Atau, kita memberikan beberapa alternatif pilihan kegiatan. Biarkan anak memilih kegiatan yang menurutnya menyenangkan dan tak membuat dirinya bosan.

3. Anak sedang memendam emosi negatif

Di sisi lain, melamun juga bisa jadi pertanda anak sedang memendam emosi negatif. Misalnya, ia sedang merasa sedih, marah, atau takut terhadap sesuatu.

Dalam konteks ini, melamun adalah sebagai ungkapan  ketidakmampuan anak dalam menunjukkan ekspresi emosi negatif. Terkadang, melamun ini terjadi tiba-tiba (diluar kebiasaan keseharian anak), ditandai gejala lain seperti anak mendadak murung, sedih dan ketakutan.

Tentunya bila anak memendam perasaan, bisa mengganggu perkembangan emosinya. Lalu, bagaimana cara orangtua menghadapi anak yang suka melamun lantaran memendam emosi negatif?

-Orangtua perlu melakukan pendekatan pada anak. Coba gali dan

apa yang dipikirkan atau dirasakan anak. Kadang anak tidak mau membuka perasaan pada orangtua. Pendekatan dilakukan agar anak dapat lebih terbuka atas perasaannya.

-Bila orangtua tak merasa sanggup atau tak berhasil melakukan pendekatan, sebaiknya meminta bantuan professional, seperti psikolog, untuk melakukan pendekatan guna memahami emosi anak.

4. Melamun sebagai gejala gangguan perkembangan ADD (Attention Defisit Disorder)

Boleh jadi, melamun juga sebagai bagian dari gejala anak dengan ADD (attention deficit disorder). Biasanya anak dengan masalah ini melamun yang sudah mengganggu kegiatan atau proses belajar atau anak kesulitan mengikuti pelajaran. Bahkan, bila masalah ini tak segera ditangani bisa memengaruhi prestasi akademiknya di kemudian hari. 

Bila itu yang terjadi maka orangtua perlu bantuan ahli psikologi atau psikiater untuk penanganan lebih lanjut ttg ‘melamun’ sebagai bagian dari gejala ADD. Dengan demikian, diharapkan anak mendapatkan penanganan dini dan segera.

Jadi, hal penting yang perlu diperhatikan adalah:

-Pahami dengan baik, kenapa anak melamun.

-Segera berikan penanganan tepat sesuai penyebab melamun anak.

-Pahami juga apa yang dilamunkan anak,

-Tak kalah penting, selalulah berkomunikasi dengan anak sehingga orangtua tahu apa yang dipikirkan atau dilamunkan anak. (hil)

Foto: freepik.com