Kenapa Anak Sering Bertanya? (1)

Seorang Ibu dan anaknya  usia 6-7 th sedang menunggu di ruang dokter di daerah Jakarta Selatan, sepertinya si Ibu sedang mengantar anaknya imunisasi karena  anaknya terlihat sehat. Keduanya sibuk dengan gadgetnya dan sesekali si anak memperhatikan aquarium ikan yang ada didekatnya, dan tiba-tiba si anak bertanya: “Bunda, ikan ikan di aquarium itu apa tidur, kalau ya seperti apa yah ikan tidurnya bunda?”

Saya yang duduk tidak jauh dari mereka pun, bergumam dalam hati :”Wah pertanyaan yang cerdas!” Si Ibu terlihat masih asyik dengan gadgetnya dan tiba2 teleponnya berdering dan langsung menjawab telepon. Saya berharap, setelah menjawab pasti Ibu ini akan kembali ke pertanyaan anaknya dan ternyata apa yang saya harapkan tinggal harapan dan Ibu ini asyik kembali dengan gagdetnya dan tidak lama akhirnya masuk ke ruang dokter karena sudah dipanggil. Saya sangat penasaran apakah si Ibu tsb menjawab pertanyaan anaknya, atau apakah si anak bertanya lagi. Perasaan saya mengatakan mereka berdua akhirnya lupa pada pertanyaan tsb, seperti kebanyakan orang mudah sekali melupakan hal-hal yang dianggap biasa atau tidak penting.

Bagaimana menyikapi anak-anak yang senang sekali melakukan observasi dan banyak bertanya karena sikap orangtua sangat menentukan perkembangan anaknya, Dr. Bruce Perry mengatakan : Curiosity is fuel of development  atau Rasa ingin tahu merupakan sumber dari perkembangan. Sikap anak yang menunggu di dokter dan bertanya tentang ikan tsb adalah sangat baik artinya anak tsb berkembang rasa ingin tahunya dengan baik, para ahli mengatakan bahwa sejak bayi berusia dua bulan sudah menunjukkan rasa ingin tahunya. Ketika belum bisa bicara rasa ingin tahunya ditunjukkan dengan telunjuknya, atau dengan bergumam atau menangis misalnya atau agak rewel. 

Observasi dan analisa  yang dilakukan oleh Professor Michelle Chouinard tahun 2007 terhadap anak-anak yang berinteraksi dengan pengasuhnya selama 200 jam menunjukkan bahwa setiap jam nya anak –anak menyampaikan 100 pertanyaan dan 2/3 dari pertanyaan tsb adalah memang pertanyaan yang anak-anak sampaikan dari rasa ingin tahunya.  Paul Harris dari Harvard University menyampaikan bahwa anak dengan rasa ingin tahu yang besar tidak pernah tidak mengacungkan  tangannya. Penelitian yang dilakukan oleh Universitas Michigan dan Hawai terhadap 1,795 anak usia 3 tahun bahwa anak-anak dari kecil banyak bertanya karena rasa ingin tahu yang tinggi pada usia 11 tahun lebih baik kecerdasan intelektualnya dibandingkan anak yang kuran bertanya. Biasanya anak-anak dari keluarga menengah lebih berani bertanya dan ketika orangtua bisa menyikapinya dengan baik maka anak-anak ini juga selangkah lebih maju ketika mereka mulai masuk sekolah. 

Peran orangtua yang menyikapinya dengan positif adalah langkah baik karena hal ini mengasah keinginan anak untuk selalu bertanya dan ketika dia sudah tahu jawabannya maka ada kepuasaan tersendiri dan anak ini akan menjadi lebih semangat untuk belajar. Ketika orangtua tidak mengakomodir rasa ingin tahu anak seperti kasus di atas maka hal tsb mematikan rasa ingin tahu dan keinginan belajar anak.

Padahal untuk sampai datang dengan satu pertanyaan saja anak-anak membutuhkan mental proses yang panjang, mulai dari keinginan untuk melakukan observasi, menyadari bahwa dia tidak tahu, otak melakukan proses kerja untuk bagaimana bisa mengekspresikan pertanyaan tsb dan bagaimana dia merangkai bahasa dan membangun keberanian untuk bertanya. Jadi orangtua yang memiliki anak senang bertanya sudah seharusnya merasa puas, senang, bangga karena hal ini menunjukkan anak-anak ini memiliki rasa ingin tahu yang besar dan berpikiri kritis dan ini merupakan harta awal untuk membangun karakter positifnya sebagai modal untuk menggapainya mimpinya.

Foto: freepik.com