Bagaimana Mengasah Kreativitas Anak? (1)

Kreativitas dapat didefinisikan sebagai melakukan berbagai hal dengan cara baru, atau melihat dunia  atau kondisi tertentu dengan cara yang berbeda.

Kita tahu bahwa sebagian orang terlahir dengan bakat tertentu, baik itu talenta di bidang seni rupa, seni suara atau seni musik dan sebagainya. Setiap orang sebetulnya memiliki kapasitas untuk menjadi kreatif.

Kita semua tentunya membutuhkan kemampuan untuk kreatif dalam memecahkan masalah kehidupan sehari-hari. Kita semua perlu mengekspresikan kreativitas untuk melibatkan seluruh daya diri kita.

Seseorang tidak dapat memberikan bakat kepada orang lain. Namun, kita dapat melatih mata, telinga, dan pikiran anak sehingga mampu memiliki cara pandang yang kreatif. Kita juga dapat membantu anak untuk dapat berkonsentrasi, kompetensi, tekun, dan memiliki optimisme yang diperlukan untuk berhasil di kemudian hari.

Nah, studi terbaru yang meneliti tentang kreativitas telah mengejutkan para peneliti. Para peneliti memiliki asumsi bahwa anak-anak yang direkomendasikan oleh guru seni sebagai yang paling kreatif adalah mereka yang tidak teratur dan t yang berprestasi lebih buruk di kelas.  Ternyata, mereka keliru.

Guru seni  menyebut anak paling kreatif sama unggul dalam menyelesaikan tugas mereka di kelas lain. Anak-anak ini menunjukkan konsentrasi selama peragaan teknik, mampu berkompetensi untuk merencanakan proyek, memiliki optimisme untuk mengambil risiko menangani ide yang lebih sulit atau orisinal, dan ketekunan untuk memberikan waktu ekstra yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan yang menyeluruh dalam menyelesaikan proyek.

Meskipun ini tidak berbicara tentang bakat, hal ini menyoroti poin penting bahwa kreativitas membutuhkan kualitas kompetensi yang sama. Ini juga menyiratkan bahwa pola asuh yang sama yang membantu anak-anak menjadi sehat secara emosional mendorong kreativitas.

Jadi, Bagaimana Anda Membantu Anak mengembangkan Kreativitasnya?

  1. Kerapian dinilai terlalu tinggi.

Entah itu karena mereka takut tangan mereka kotor atau karena mereka hidup dengan terlalu banyak peraturan dan tidak berpikir out of the box. Anak yang tinggal di rumah engan fokus pada kerapian dinilai kurang kreatif. Seperti yang dikatakan Ms. Frizzle dari Magic Schoolbus, “Ambil Kesempatan! Menjadilah berantakan! ”

  1. Anak yang sering mengalami keterbatasan karena berpikir “di dalam kotak”.

Anak yang masih berusia bayii tentu harus dijaga keamanan lingkungan sekitarnya, misalnya jauhi dari kompor. Tapi sebaliknya, mengapa tidak membiarkan bayi Anda mengosongkan rak buku, misalnya. Mengapa balita Anda tidak boleh “mengecat” teras dengan kuas cat dan seember air?

  1. Fokus pada permainan dan proses, bukan produktivitas.

Ketika anak melakukan kegiatan seni untuk mendapatkan komentar positif dari orang dewasa, terkadang ia tidak sabar untuk menyelesaikan gambar lain demi untuk mendapatkan pujian “Karya yang bagus!” Namun yang jelas, yang terpenting bukanlah berapa banyak gambar yang ia hasilkan, melainkan seberapa terlibat dirinya dalam prosesnya. Perhatikan bagaimana perjuangannya mengerjakan gambar itu. Anak tak perlu terburu-buru untuk melanjutkan membuat gambar lainnya hanya demi unntuk mengejar komentar positif.

Foto : freepik.com