7 Hal Ini Harus Dihindari Agar Anak Percaya Diri

Mendidik anak agar tumbuh percaya diri sangatlah penting. Sayangnya, terkadang tanpa disadari, orangtua bersikap atau melakukan sesuatu yang justru menyebabkan anak jadi tak percaya diri. Nah, apa saja hal yang harus dihindari? Berikut uraian selengkapnya. 

1. Memberi label buruk pada anak

Memberi label adalah melontarkan julukan tertentu yang umumnya terkait ciri fisik atau karakteristik tertentu yang dimiliki anak. Memberi label bisa bermakna positif atau negatif, yang masing-masing akan memberikan dampak pada anak. Misal, dalam konotasi positif, kadang anak dilabel sebagai ‘si pintar” “si lucu” atau lainnya.

Adapun contoh memberi label buruk pada anak di antaranya dengan menyebut “si anak manja”  atau “si keras kepala” atau mungkin juga “si cengeng” atau memanggilnya gemuk, bulat dan lain-lain. Pada anak usia sekolah dan remaja, mereka memanggil seseorang atau temannya dengan julukan tertentu yang kadang disertai dengan olok-olok.

Terkait hal tersebut, penting sekali orangtua untuk mengetahui tentang proses pembentukan self concept, yaitu bagaimana seseorang memandang dirinya. Nah, self concept ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan dalam proses pembentukannya. Jadi jika label yang diberikan adalah negatif, akan membuat anak melihat dirinya sebagai sosok yang negatif seperti kata atau julukan yang dilontarkan padanya. Misalnya, si keras kepala, si manja atau si cengeng.

Karena itulah, segera setop pemberian label. Setop memanggil anak dengan julukan-julukan tertentu, terutama yang bermakna negatif. Panggilah anak dengan nama yang ia miliki.

2. Membandingkan anak dengan anak lain

Membandingkan anak dengan anak lain maksudnya membandingkan kondisi atau mengukur keberhasilan atau pencapaian anak bukan berdasarkan kemampuan/kemajuan yang dimilikinya dibandingkan dengan kondisi anak sendiri (dengan kondisi anak sebelumnya), akan tetapi membandingkan kondisinya dengan anak lainnya.

Hal yang paling sering dilakukan orangtua adalah membandingkan adik dengan kakak. Atau menbandingkan prestasi sang buah hati dengan teman sekelas lainnya. Meski terkesan sepele, sebenarnya membanding-bandingkan seperti ini bisa berdampak buruk. Di antaranya, anak merasa tidak diterima apa adanya, tidak dihargai dan kerap merasa disalahkan sehingga ia memiliki kepercayaan diri dan harga diri yang rendah.

Lalu, bagaimana sebaiknya sikap orangtua bila hal ini sudah terlanjur dilakukan?

Mulailah untuk menghargai setiap kemajuan anak. Bandingkan hanya dengan kondisi anak sebelumnya. Contohnya, anak yang mendapat nilai ulangan jelek, yang dilakukan orangtua bukanlah membandingkan dengan mengatakan, “Kenapa nilai kamu 7? Temanmu si A bisa dapat 9?”. Akan tetapi, coba ubah perspektifnya menjadi “Kamu pasti sudah berusaha keras ya.. ulangan kemarin dapat 6 sekarang bisa dapat 7. Itu sudah suatu kemajuan. Ibu bangga. Besok kita sama-sama belajar lebih baik ya supaya bisa meraih hasil lebih baik lagi.” Ada pernyataan bahwa ibu menghargai keberhasilan anak meskipun hanya naik satu poin.

3. Selalu mendikte (Tidak memberi kesempatan memutuskan)

Mendikte bisa diartikan sebagai upaya untuk selalu mengatur anak, tidak memberikan kesempatan anak untuk memilih dan cenderung memaksakan kehendak pada anak. Berikut contoh perbincangan yang sering terlontar tanpa sengaja namun bermakna mendikte.

Ibu     : “Hari ini kita mau ke mall, pakai baju merah yang Nak.”

Anak : “Aku nggak suka merah Ma.. boleh pakai yang biru?

Ibu     : “Sudah, pakai yang merah saja.. warna merah akan kelihatan lebih pas buat kamu.”

Anak tidak diberi kesempatan untuk mengungkapkan pendapat dan memilih.

Dampak yang bisa muncul adalah anak tidak mandiri, kerap tidak percaya diri untuk memutuskan sesuatu, tidak tegas dan kesulitan dalam memilih.

          Nah, sikap terbaik yang perlu ditunjukkan adalah orangtua memberikan pilihan dalam setiap situasi. Pilihan yang diberikan tentunya sudah melalui proses seleksi sehingga pilihan yang diberikan kepada anak masih berada dalam batasan kriteria orangtua. Contoh, “Adek hari ini mau pakai baju yang mana? Itu sudah mama siapkan pilihanya, ada yang merah dan kuning. Kalau sudah pilih kasih tahu  Mama ya..”

4. Ingkar janji pada anak

Ingkar janji adalah tidak menjalankan komitmen yang sebelumnya telah disepakati bersama anak. Bisa juga berarti menunda pemenuhan komitmen atau sesuatu yang sudah dijanjikan pada anak sebelumnya.

Misalnya, orangtua mengatakan seperti ini. “Malam minggu ini kita nonton bioskop ya Nak.”. Namun, setelah sampai malam minggu, tidak jadi pergi menonton bioskop atau menunda menonton bioskop ke minggu depannya.

Efek yang mungkin terjadi adalah anak tidak lagi percaya kepada orangtua dan lingkungan. Justru cenderung akan terbentuk pribadi yang meremehkan dan tidak menghargai komitmen serta cenderung tidak dispilin.      

Untuk menghindari dampak tersebut, sebaiknya orangtua berusaha selalu menepati janji. Jika memang terpaksa sekali harus membatalkan janji atau mengundur realisasi pemenuhan janji, orangtua harus meminta maaf. Sampaikan penjelasan yang tepat dan sebisa mungkin segera merealisasikan janji pada kesempatan berikutnya.

5. Meminta anak berbohong

Meminta anak untuk berkata tidak jujur kepada orang lain bukanlah hal yang baik. Hal ini kerap kali diasosiasikan dengan berbohong untuk kebaikan (white lie). Namun apapun alasannya, meminta anak untuk berbohong bukanlah hal yang dapat diterima.

Contoh yang sering terjadi, orangtua mengatakan, “Nak.. kalau ada yang menelepon dan mencari Mama, bilang saja Mama tidak ada ya..” Nah, bila itu dilakukan, anak kerap menganggap berbohong sebagai satu hal yang wajar, sehingga kerap menyelesaikan masalah juga dengan berbohong. Ingat bahwa anak peniru yang ulung. Pada akhirnya anak tidak menghargai nilai kejujuran.

Apa yang perlu dilakukan orangtua? Meminta maaf dan menyampaikan alasan kenapa berbohong. Berikan penjelasan kenapa saat itu Anda meminta anak untuk berbohong. Mengakui bahwa apa yang dilakukan itu kurang tepat. Lalu, berusaha untuk tidak mengulangi lagi menjadi yang terpenting dalam hal ini.

6. Menuntut anak selalu menang / juara

Menuntut anak untuk selalu menang adalah meminta ia untuk melakukan sesuatu berdasarkan standard orangtua. Mama atau Papa selalu menuntut yang tebaik.

Misalnya dengan mengatakan, “Di semester ini kakak harus juara 1 ya..” atau “Besok lomba menyanyi, harus tampil yang bagus. Pokoknya harus juara 1.”

Efeknya, anak merasa tertekan, tidak bahagia dan merasa tidak diterima apa adanya. Cenderung mudah stres. Anak menjadi tidak percaya diri karena kurangnya penghargaan atas pencapaian yang berhasil didapat.

Bila hal itu terjadi segeralah itu meminta maaf pada anak. Sampaikan penjelasan mengapa orangtua bersikap menuntut anak untuk selalu juara. Lalu, tidak mengulanginya lagi. Yang perlu disadari orangtua adalah kebutuhan anak untuk diterima apa adanya, penghargaan atas sekecil apapun yang sudah ia capai.

7. Suka menakut-nakuti anak

Ya, menceritakan pada anak hal-hal menakutkan yang dapat terjadi (bahkan kerap kali tidak mungkin terjadi) jika anak melakukan sesuatu yang tidak diinginkan orangtua atau karena tak menuruti orangtua.

Misalnya dengan mengatakan, “Nak.. jangan kesana nanti ada monster. Jangan keluar Nak, nanti diculik.” Seringkali kebiasaan menakuti anak timbul karena ketidaksadaran orangtua dan faktor kebiasaan. Cara ini kerap dipilih karena “efeknya” akan langsung terasa oleh orangtua. “Jangan kesana, nanti ada monster.” Sesaat itu juga anak akan berhenti melangkah. Itu  respons yang diharapkan orangtua.

Kita perlu mengingat, pemberian kalimat-kalimat yang sifatnya mengancam akan lebih banyak membawa efek negatif pada anak dalam jangka panjang. Dengan kata-kata seperti itu, justru anak menjadi penakut, kerap ragu untuk melakukan sesuatu dan menjadi tidak mandiri. Anak cenderung tidak merasa percaya diri yang diakibatkan oleh banyaknya ketakutan-ketakutan yang ia miliki.

Jadi segera setop kebiasaan menakut-nakuti anak. Lalu, ubah kebiasaan memberi kalimat yang berkonotasi menakuti menjadi pemberian kalimat yang bersifat positif. Misal, kalimat

“Jangan keluar nanti ada monster” diubah menjadi “Disini saja ya Nak, diluar banyak mobil yang lalu lalang.”

Nah, mengingat ketujuh hal di atas bisa membawa dampak negatif terhadap rasa percaya diri anak, maka upayakan kita  selalu sadar akan posisi sebagai orangtua yang bertugas menjadikan anak tumbuh menjadi pribadi yang baik dan mandiri. Perhatikan setiap cara penyampaian sikap dan komunikasi dengan buah hati. Jika membuat kesalahan yang disebabkan ketidaktahuan kita dalam mengatasi situasi-situasi tertentu atau memang sudah tahu tapi tidak memiliki alternatif dalam menyelesaikan masalah dengan cara yang lebih positif), meminta maaflah pada anak. Berikan penjelasan mengapa kita melakukan hal tersebut. Perhatikan kontak mata dan bahasa tubuh saat penyampaian. Penerimaan apa adanya pada anak adalah salah satu aspek yang penting dalam menumbuhkan kepercayaan diri dalam dirinya.

KIAT AGAR ANAK PEDE

Ada beberapa hal yang bisa dilakukan agar anak tumbuh percaya diri, yaitu:

a. Berikan informasi citra diri positif pada anak. Dapat dimulai dengan memanggil anak dengan kata-kata positif dan membantu anak menyadari kelabihan yang ia miliki.

b. Berikan kesempatan pada anak untuk melakukan hal yang sudah mampu ia lakukan.

c. Berikan pujian yang sesuai dengan apa yang mampu diraih oleh anak. Pujian yang berlebihan kerap memunculkan perasaan over pede pada anak yang berpengaruh terhadap kemampuan sosial anak nantinya.

d. Hargai dan ungkapkan penghargaan terhadap perubahan positif yang dilakukan oleh anak, sekecil apapun perubahan tersebut.

e. Dalam melakukan evaluasi pada anak, hanya bandingkan anak dengan dirinya sendiri. Jadi, Orangtua hanya boleh membandingkan kemampuan anak sebelum dan sesudah apa yang ia lakukan/capai. (hil)

foto: freepik.com