Membangun Karakter Anak Bertanggung Jawab

Moms, tidak ada manusia yang terlahir dengan karakter tanggung jawab. Karakter tanggung jawab harus ditanamkan, dipupuk, dievaluasi, dst, melalui proses yang berkesinambungan. Ketika individu ‘lulus’ untuk menjalankan tanggung jawab dalam skala kecil, ia kemudian akan dipercayakan tanggung jawab dalam skala yang semakin besar. Itulah fitrah perjalanan manusia.  Sebagai pengemban tanggung jawab hingga akhir hidupnya.

Tanggung jawab adalah bentuk kesadaran dan perilaku moral yang teramat penting. Orang yang bertangung jawab adalah orang yang memiliki kesadaran bahwa ia wajib menanggung segala sesuatu, yang telah dipercayakan kepadanya atau yang merupakan dampak dari pilihan dan keputusannya.

Di sepanjang kehidupan, setiap individu perlu memahami bahwa ketika ia mengambil sebuah keputusan, ada konsekuensi yang melekat pada keputusan tersebut. Tidak semua orang besar mampu bersikap matang dalam menerima konsekuensi dari keputusannya. Misalnya, memutuskan untuk mencicil mobil, namun tidak disiplin dalam mengelola keuangan, sehingga cicilan tertunggak; atau memilih sebuah jurusan pendidikan, namun di tengah jalan merasa tidak betah karena merasa sulit, lalu meninggalkan begitu saja program pendidikannya.

Tanggung jawab juga melekat dengan kepercayaan.

Semakin seseorang dipercaya, maka semakin besar tanggung jawab yang akan diberikan kepadanya. Ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya, maka karakter pengenalian diri, ketekunan, komitmen, kepercayaan diri juga turut dilatih. Contoh, ketika seseorang dilatih tanggung jawabnya sebagai pengendara dan pemilik sepeda motor melalui proses pendidikan yang benar, maka ia juga akan dilatih bagaimana mengendalikan emosinya ketika disalib pengendara motor lain, ketenangan dalam mengendarai motor, komitmen untuk selalu menjaga kebersihan motornya, dll.

Intinya karakter tanggung jawab sangat penting, oleh karena itu orang tua, sebagai pihak utama dan pertama yang ‘dititipkan’ anak,  berkewajiban untuk membangun karakter bertanggung jawab anak-anaknya.

Kapan waktu terbaik untuk mulai membangun karakter tanggung jawab?

Semakin dini sebuah perilaku moral dibangun, maka akan semakin tertanam. Melatih tanggung jawab dapat dimulai sejak anak sudah cukup bisa berkomunikasi dengan orang tuanya, biasanya ketika menginjak usia 3 tahun. Cara belajar yang khas pada anak-anak usia balita adalah dengan cara melihat dan melakukan.

Berbeda dengan anak yang lebih besar, anak balita tidak perlu diyakinkan terlebih dahulu untuk melakukan sesuatu. Ia akan langsung mencontoh saja. Oleh karena itu cara terbaik untuk membentuk kebiasaan tanggung jawab anak adalah dengan cara mencontohkannya berulang-ulang, dan membimbing anak untuk bersama-sama melakukannya. Misalnya, ketika selesai bermain bersama, orang tua memasukkan barang-barang ke kotak mainan bersama-sama dengan anak.

Anak usia balita juga akan cepat belajar jika orang tua membentuk pola atau sistem yang konsisten. Oleh karena itu sangat penting untuk orang tua memilihkan ruang main yang tetap, jam main yang sama, kotak penyimpanan mainan yang sama. Ketika anak secara berulang-ulang memperhatikan  ada  satu pola yang konsisten, maka akan terbentuk pola tanggung jawab, yang akan diteruskannya hingga ke usia selanjutnya.

Ketika anak di usia balita hingga TK, biasanya anak dilatih bertanggung jawab untuk melakukan kegiatan fisik pribadi, misalnya, menggosok gigi setiap habis makan, mengganti baju, menghabiskan makan yang dimintanya, mandi sendiri, tidur sendiri.

Orang tua dalam hal ini perlu ekstra sabar dan tidak perlu terlalu menuntut kualitas dari kegiatan tersebut. Misalnya, orang tua perlu bertoleransi jika ketika makan belum bisa terlalu bersih, dan tetap mengapresiasi kemauan anak untuk makan sendiri. Lambat laun, seiring anak meningkat ke usia SD, orang tua dapat melatih tanggung jawabnya terhadap hasil/kualitas dari kegiatan mandiri anak.

Ketika anak beranjak ke tingkat SD awal, orang tua dapat melebarkan tanggung jawab anak untuk memelihara barang-barang pribadinya. Misalnya, meletakkan tas sekolah dan sepatu dengan rapi, memasukkan baju-baju ke lemarinya sendiri dengan rapi. Anak usia SD sudah bisa dilatih tanggung jawabnya untuk lebih memperhatikan kualitas kegiatannya. Misalnya tidak hanya mengenakan baju seragam sekolah sendiri, namun juga mengenakannya dengan rapi.

Di tingkat SD awal, orang tua dapat mengedukasi anak bahwa ada konsekuensi yang harus ditanggung anak bila tidak melakukan kewajibannya. Misalnya, jika melupakan PR, lupa membawa bekal. Biasanya pihak sekolah juga tidak mengijinkan orang tua untuk menyusulkan barang-barang sekolah yang tertinggal. Oleh karena itu anak-anak usia SD sudah bisa diedukasi untuk lebih inisiatif dalam memeriksa ulang peralatannya kembali.

Ketika anak menginjak SD kelas 3, anak sudah bisa dilatih untuk bertanggung jawab dalam membuat perencanaan kegiatan jangka pendek. Misalnya dalam beberapa hari ke depan, untuk persiapan ulangan yang bersamaan dengan jam-jam kursus lainnya, latih anak untuk membuat chart sederhana yang berisi jadual kegiatan.

Semakin anak menginjak SD akhir, semakin anak mesti dilatih untuk menanggung konsekuensi dari tanggung jawab pribadinya. Biasanya anak SD di tingkat akhir sudah meminta fasilitas tertentu, seperti alat main game, atau hp. Didik anak bahwa ada kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan bersama dengan fasilitas tersebut.

Jika si anak tidak dapat menjaga kepercayaan tersebut, maka akses terhadap fasilitas tersebut seharusnya dikurangi atau dicabut. Konsekuensi yang harus dipikul anak ini harus dikomunikasikan sejak awal, sebelum fasilitas itu mulai dipergunakan oleh anak. Buat aturan main yang jelas juga mengenai jam, waktu, tempat penggunaannya. (hil)

Foto: freepik.com

Fathering Brain, Peran Ayah Mengasuh Anak Melalui Dinamika Otak

Menurut Anda, Seberapa besar peran seorang ayah dalam pengasuhan anak? Lalu, bagaimana caranya agar seorang ayah dapat menjadi figur yang positif bagi buah hati?

Ya, ayah punya peran yang sangat penting dalam mengasuh dan mendidik anak.  Ada metode yang disebut fathering brain, yaitu bagaimana peran ayah dalam mengasuh dan mendidik buah hati dengan menggunakan dinamika otak yang bersinergi dengan anak.

Tentunya, hal-hal positif yang akan dapatkan baik oleh ayah maupun anak, bila ada peran aktif dari sosok ayah dalam pengasuhan. Setidaknya, ada dua otak yang akan saling menguatkan secara positif bila ayah terlibat mengasuh dan mendidik, yaitu otak rasio anak dan otak emosi anak.

Nah, otak rasio akan membantu anak mengembangkan kemampuan otaknya yang terkait dengan pemikiran yang kritis, lugas, terukur dalam bertindak dan berkeputusan. Anak akan terlatih untuk hal-hal tersebut.

Sedangkan, otak emosi anak akan membantu anak untuk mampu bangkit percaya diri atas ketidaknyamanan yang dialaminya, anak akan lebih asertif untuk menceritakan apa yang dirasakannya, anak akan matang dalam merespons emosi orang di sekitarnya. Dalam penguasaan emosi, anak akan lebih terarah untuk berbicara, ditambah ekspresi emosi anak sangat terkendali.

Nah, kedua otak anak ini terbentuk melalui tahapan-tahapan yang harus diikuti oleh ayah, bukan hanya oleh ibu. Inilah yang harus dipahami para ayah di zaman sekarang. Bahkan, hanya dengan hal sederhana, misalnya mengecup kening anak, otaknya akan bereaksi secara positif. Adapun otak yang bereaksi adalah otak rasio serta otak emosi ayah dan anak yang berada dalam satu gelombang yang sama.

Contoh lain, ayah bisa memberikan sentuhan ringan pada si kecil dan ungkapan positif yang singkat sehingga saraf-saraf akan bereaksi secara positif pula. Hal-hal seperti inlah yang kadang luput dari perhatian para ayah. Bahkan, ayah jarang memberikan sentuhan atau sensasi emosi secara positif pada anak, baik dengan cara mengecup kening anak atau memberi dukungan positif secara verbal yang sederhana sekalipun.

Justru, kenyataannya para ayah mungkin pernah tanpa sadar memarahi anak. Nah,

tahukah otak bagian mana yang berubah strukturnya, baik otak pada anak maupun ayah? Ya, perubahan ke arah kemunduran otak.

Jadi, perlu diperhatikan bahwa ayah yang mendukung adalah ayah yang matang secara emosi dan pikiran. Bila ayah selalu penuh emosi, tidak sabar, akan membuat anak serupa dengan ayahnya. Bila otak mendapat hal-hal negatif dari ayah atau figur laki-laki lain di lingkungan, maka hal negatif itu akan memengaruhi dinamika psikologis otak anak.

Karena itu, ayah perlu belajar dan pasti bisa menjadi ayah yang hebat.

Ada beberapa manfaat yang bisa dipetik bila ayah dengan anak dan menjadi sosok ayah yang hebat:

  1. Anak tumbuh menjadi pribadi yang baik.
  2. Tumbuh kembang anak menjadi optimal.
  3. Meningkatkan hubungan emosional antara ayah dan anak
  4. Memengaruhi keberhasilan anak di masa depan.

Intinya, peran ayah sangat penting bagi tumbuh kembang anak. Citra anak juga tercermin dalam pola pengasuhan yang terekam di bawah alam sadar. Maka ayah teruslah belajar menjadi super dad, ayah yang hebat serta menjadi kebanggaan anak.

Akan lebih baik lagi bila ayah dan bila bersinergi dalam mengasuh anak, sehingga secara emosional dan berpikir akan positif serta anak akan matang secara mental. (hilman)

Foto: freepik.com

Narasumber: Mohamad Basir, S. Psi., M.Psi, Psikolog

Cara Mengembangkan Karakter Anak dengan Graphotherapy

Tulisan tangan seorang anak tentu tidak muncul dengan sendirinya. Akan tetapi, tulisan tangan itu dipengaruhi oleh postur tubuh dan aktivitas otak. Nah, hal inilah yang perlu dikenali dan dipahami orangtua. Setelah kita mengetahui permasalahan yang dihadapi anak, selanjutnya adalah kita harus mencari jalan atau solusinya. Namun, seperti apa dan bagaimana caranya?

Salah satu upaya yang bisa kita lakukan adalah melalui graphotherapy. Graphotherapy adalah terapi yang didasarkan pada hubungan antara pikiran bawah sadar dengan tulisan tangan, sebagai dua jalan yang saling berhubungan. Nah, hubungan tersebut menghasilkan tulisan tangan yang merefleksikan pikiran bawah sadar seseorang.

Adapun tujuan graphotherapy adalah untuk mendapatkan perubahan yang spesifik yang dapat memperbaiki atau mengurangi, mengembangkan atau memperkuat karakter atau sifat seseorang melalui perubahan tulisan tangannya. Kemudian, usaha yang dilakukannya melalui graphotherapy tersebut kemudian akan menjadi respons yang otomatis dalam dirinya.

Lalu, apa saja langkah yang dilakukan dalam proses grafoterapi ini? Berikut di antaranya:

1. Menentukan masalah/perilaku yang akan diubah
Apa yang akan diubah melalui tulisan tangan didasarkan pada hasil analisis tulisan tangan anak yang baru saja dilakukan. Tidak disarankan menggunakan sampel yang sudah lama dibuat). Cobalah untuk menganalisis dengan menggunakan sample yang cukup banyak karena orangtua akan mendapat informasi yang lebih banyak.

2. Sarankan alternatif solusi terlebih dahulu
Tidak semua orang memerlukan terapi! Sebagai orang tua, Anda harus pandai memilih kasus mana yang memang memerlukan terapi dan kasus yang dapat diatasi dengan terapi yang dilakukan dengan aktivitas nyata. Misal, untuk meningkatkan percaya diri bisa dilakukan grapho therapy tapi kasus misal untuk mencapai tujuan hidup sebaiknya dilakukan solusi lainnya juga.

3. Tentukan prosedur terapi yang akan digunakan
Grafoterapi hanya disarankan untuk mengubah satu trait dalam satu waktu. Meskipun ada beberapa trait yang perlu diubah dari klien, namun lakukan selangkah demi selangkah. Maksud trait itu adalah, misal mau meningkatkan rasa percaya diri, perbesar hurufnya. Satu  kali terapi harus 1 goal, tak boleh lebih sampai goal itu terwujud baru dilakukan terapi yang lain.

HAL PENTING LAINNYA

Grafoterapi sebaiknya tidak dilakukan untuk mengatur pembentukan kepribadian anak secara mutlak. Kenapa? Karena tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui dan mempredisksi seorang anak akan menjadi apa di masa depan. Oleh karena itu, terapi ini disarankan hanya untuk melakukan perubahan perilaku yang memang tidak baik bagi  anak tersebut (misalnya emosi yang terlalu berlebihan atau ketidaktelitian).

Graphotherapy bukan sekedar memperbaiki dari tulisan tangan, namun juga bisa dilakukan dalam bentuk latihan motorik halus. Ini bisa untuk semua umur tanpa terkecuali.


HANDWRITING

Perlu kita ketahui bahwa handwriting adalah brain writing.  Jadi, ketika menulis sebenarnya otak sedang berinteraksi dengan tubuhnya membentuk tulisan. Karena, itu jika stres berpengaruh terhadap postur tubuh secara keseluruhan. Kemudian, hal ini akan berpengaruh pada lengan dan pergerakan menulis. Jadi bukan hanya melihat apa isi tulisan, tapi juga bagaimana si otak menulis (brain writing)

Lalu, secara keseluruhan yang harus diperhatikan? Ini di antaranya:
1. Content

Konten ini adalah isi tulisan. Kita perlu mengetahui apa perbedaan konten baik sebelum dan setelah stimulasi.

2. Context

Konteks dalam hal ini membicarakan tentang postur tubuh, keluwesan menulis, kualitas tulisan, dan perhatikan detail seperti zona, base line, kemiringan tulisan, margin, tekanan dan lain-lain.

(Hil)

Foto: freepik.com


Bila Anak Tak Bahagia dan Apa Dampaknya?

Secara prinsip, bahagia adalah sesuatu yang identik dengan kesenangan, keceriaan, dan kemudahan dalam hal apapun. Dalam kajian psikologi, kebahagiaan itu ditandai dengan adanya gelombang otak yang sedang dalam posisi alpha (terjaga dan tenang).

Nah, banyak manfaat yang diperoleh ketika anak merasa bahagia. Anak akan lebih bersemangat dalam melakukan aktivitas dan pertumbuhan tubuhnya menjadi lebih baik. Kenapa? Karena anak bahagia itu biasanya anak yang sehat.

Tentunya perlu upaya untuk mendapatkan kebahagiaan pada anak. Pasalnya, kebahagiaan tidak akan datang dengan sendirinya, tanpa upaya dan kerja keras.

Pastinya, kebahagiaan anak adalah kebahagiaan orangtua. Bila anak berbahagia, aktivitas atau pekerjaan orangtua menjadi lancar, baik, aman terkendali.

Bagaimana bila anak tak bahagia?

Orangtua juga perlu mengenali ciri-ciri anak tak bahagia serta dampak yang bisa terjadi dalam kehidupannya. Berikut di antaranya: 

1.Menangis merupakan kondisi yang paling mudah dikenali untuk mengetahui anak tidak bahagia. Anak yang menangis menunjukkan bahwa ia merasa tidak nyaman dengan kondisi yang terjadi padanya. Untuk menanganinya ada berbagai cara tergantung dari pendekatan yang biasa dilakukan orangtua. Cari tahu terlebih dulu apa yang menyebabkannya menangis. Kemudian, cari solusi agar ia kembali merasa bahagia.

2. Anak terlihat lesu, tidak ingin tertawa, menyendiri, dan murung. Perasaan yang tidak bahagia akan membuat kehidupannya seperti tertekan, tidak ada semangat, dan merasa terpuruk. Ia pun menjadi pemalas dan suka mengganggu orang lain.

3.Anak tampak cemberut. Lebih sering dilakukan oleh anak untuk menunjukkan rasa kesal atau kecewa terhadap sesuatu.

4.Lemas dan malas untuk melakukan apapun. Anak mudah menyerah, prestasi belajar menurun, atau mengamuk tanpa jelas.

5.Kesehatan terganggu. Anak yang sakit merasa tidak bahagia karena badan terasa lemas, suhu badan tinggi, kepala pusing, dan berbagai gejala sakit lainnya. Selain itu, ia pun tak bahagia karena tak bisa bermain, selera makan menurun dan sebagainya. 

Nah, untuk membuat anak bahagia, peran orangtua sangatlah penting. Akan tetapi, pihak-pihak lain, misalnya guru di sekolah pun berperan agar anak merasa bahagia. Misalnya, menerapkan pola pembelajaran yang menyenangkan.

Bila anak berbahagia maka kehidupannya pun akan semakin baik dan positif. Oleh karena itu, mari bekerja sama menciptakan kebahagiaan anak di sekitar kita! (hil)

Foto: freepik.com

Kenali 10 Tanda Anak Bahagia

“Bahagia itu sederhana!“ Ya, istilah tersebut beberapa waktu lalu cukup sering di-posting sebagian orang di media sosial. Ini menunjukkan bahwa kebahagiaan itu merupakan keinginan semua orang. Pun, untuk mencapai kebahagiaan tidak perlu muluk –muluk.

Sebenarnya, bahagia mempunyai makna yang sangat luas. Pengertian atau definisi bahagia ini relatif  sesuai dengan masing-masing orang yang merasakannya. Sebagai contoh, ada orang yang berbahagia karena berkumpul dengan keluarga atau orang-orang terdekatnya, bahagia dalam pencapaian prestasi belajar, bahkan ada yang merasa bahagia karena melihat orang lain yang sedang bahagia, dan lain sebagainya.

Dalam konteks anak-anak, salah satu kebahagiaan yang berkesan adalah ketika ia berjuang mendapatkan keinginannya, lalu sempat mengalami kegagalan beberapa kali hingga akhirnya dia  mencapai keberhasilan atau kemenangan. Suatu kemenangan yang didapatkan pun identik dengan kebahagiaan.

Yang jelas, kebahagiaan merupakan satu rasa yang hadir dalam kehidupan seseorang, dalam pemikiran yang tenasg, kedamaian hati, serta damai dengan orang lain serta orang-orang terdekat dan  sebagainya.

Ciri Anak Bahagia

Nah, bagaimana dengan anak yang bahagia? Kapan kita bisa tahu bahwa anak merasa bahagia? Anak yang bahagia akan terlihat dari wajahnya.

Kebahagiaan anak yang utama dapat dilihat dari ekspresi wajahnya. Soalnya, anak selalu menampilkan atau mengekspresikan apa yang dirasakannya. Ia belum pandai menyembunyikan ketidaksukaannya karena masih lugu, polos, dan apa adanya.

Adapun beberapa ciri anak yang bahagia dan cara orangtua menciptakan kebahagiaan tersebut adalah

  1. Wajah Berseri-seri

Wajah berseri-seri dapat terlihat salah satunya ketika anak bermain, baik bersama orangtua maupun dengan temannya. Ia tampak bahagia ketika bermain. Itulah mengapa dikatakan dunia anak adalah dunia bermain. Ia akan mendapatkan kebahagiaan saat bermain.

Nah, untuk menciptakan hal ini dapat dilakukan dengan berbagai cara. Misalnya, Anda meluangkan waktu untuk bermain dengan anak atau temannya, melakukan permainan yang ia inginkan, atau membelikan anak mainan yang dapat dimainkan bersama. Menyediakan permainan akan membuat anak bahagia.

Sebaliknya, anak yang tak bahagia biasanya berwajah kusam atau kusut. Misalnya, anak berwajah kusut karena kemauannya tidak dituruti. Yang terjadi kemudian, anak menjadi tidak bergairah untuk beraktivitas.

2. Riang Gembira

Anak yang bahagia akan tampak riang. Curahan perhatian dan kasih sayang orangtua dapat membuat bahagia sehingga ia tampak riang. Orangtua akan riang gembira ketika kemauannya terpenuhi. Akan tetapi, dalam menuruti kemauan anak, orangtua harus memahami batas kewajaran. Orangtua tidak boleh menuruti permintaan anak yang “aneh-aneh” misalnya dibelikan telpon genggam padahal anak masih usia balita.

3. Mata Berbinar

Anak yang bahagia tampak dari tatapan matanya yang berbinar penuh kesenangan. Misalya, anak tampak berbinar-binar ketika orangtua menjanjikan untuk pergi bertamasya di masa liburan sekolah. Ia merasa bahagia dan membayangkan asyiknya berlibur.  Jangan lupa, janji yang sudah dilontarkan harus ditepati ya!

4. Ceria

Anak yang bahagia biasanya tampak dari wajahnya yang ceria. Misalnya, ketika orangtua memberikan hadiah atau kado yang membuatnya senang. Tentu agar anak tampak ceria tidak harus berupa pemberian. Akan tetapi dengan menceritakan suatu yang menarik pun anak bisa tampak ceria.

5. Tersenyum

Rasa bahagia bisa muncul dari senyuman. Coba perhatikan, bila anak anak tersenyum manis boleh jadi ia sedang merasa bahagia. Ketika anak mendapatkan pujian dari orangtua karena suatu keberhasilan, ia akan tampak tersenyum bahagia. Orangtua harus memuji upaya anaknya, sekalipun tidak mendapatkan hasil yang maksimal.

Pujian yang diberikan orangtua dan penguatan yang memotivasi dan positif atas sesuatu yang dicapai anak akan membuatnya tersenyum dan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-harinya.

6.; Tertawa

Anak yang tertawa menandakan ia sedang bahagia. Coba ceritakan hal-hal yang dianggap anak lucu ataupun kejadian tertentu yang membuat anak tertawa bahkan sampai terpingkal.

7. Bersikap Terbuka

Anak yang bahagia biasanya memiliki sikap yang terbuka. Ia tidak menutup diri atau memilih menyendiri. Ia suka bersosialisasi, berteman dan bergaul. Ia merasa aman dan nyaman berada dengan orang lain. 

8. Percaya diri

Anak yang bahagia memiliki rasa percaya diri. Ia tidak minder. Ia merasa yakin dengan kemampuan yang dimilikinya. Ia ingin terus mengeksplorasi segala potensi yang masih terpendam dalam dirinya.  

9. Memiliki Cita-Cita Tak Terbatas

Anak yang bahagia memiliki cita-cita tak terbatas. Bak pepatah “Gantungkan cita-citamu setinggi langit” ia begitu antusias dengan harapan-harapannya

10. Selalu Bersyukur

Anak yang bahagia selalu bersyukur atas situasi dan kondisi yang dialaminya.  Termasuk bersyukur atas kelebihan dan kekurangan yang dimilikinya. Ia memiliki simpati dan empati yang tinggi karena sikapnya yang selalu bersyukur. (hil)

Foto: freepik.com

10 Cara Ekspresikan Rasa Sayang

Pada dasarnya, mengekspresikan rasa sayang merupakan bagian dari pola pengasuhan yang sangat menyenangkan. Ini merupakan hal yang sangat penting dan mudah untuk dilakukan namun akan terasa sulit jika tidak terbiasa untuk melakukannya. Mengungkapkan atau mengekspresikan rasa sayang kepada keluarga dapat dilakukan kapan saja.

Jika hal ini sering dilakukan orangtua terhadap anaknya maka dapat membantu pembentukan karakter anak menjadi lebih positif. Otak yang selalu dipenuhi dengan kalimat positif dan ungkapan cinta akan membantu anak untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih sehat dan menyenangkan.

Adapun manfaat mengekspresikan rasa sayang untuk anak:

  • Dapat meningkatkan ikatan emosional antara ibu dan anak
  • Menambah kedekatan ibu dengan anak
  • Membentuk anak menjadi pribadi yang lebih positif, percaya diri, dan memiliki konsep diri yang positif
  • Dapat membantu anak untuk memiliki kematangan emosi yang lebih baik.

Adapun manfaat mengekspresikan rasa sayang untuk ibu:

  • Dapat menambah rasa cinta anak kepada sang ibu
  • Membuat ibu merasa dicintai dan dihargai
  • Anak menjadi lebih menghargai dan memaknai peran serta pengorbanan sang ibu didalam hidupnya.

Nah, sebenarnya banyak sekali hal sederhana yang bisa dilakukan untuk mengekspresikan rasa sayang. Berikut cara-cara untuk mengekspresikan rasa sayang anak kepada sang ibu:

1.Mengungkapkan dengan kata-kata/ucapan

Anak dapat mengekspresikan rasa sayangnya kepada sang ibu melalui kata-kata. Misalnya ketika pagi sang ibu telah menyiapkan sarapan maka anak dapat mengatakan “Terima kasih Ibu untuk roti bakar dan susunya.  Aku jadi lebih bersemangat hari ini. Aku sayang sekali sama ibu” . Hal ini juga bisa dilakukan sambil anak mengecup pipi sang ibu atau ketika bersalaman pamit untuk berangkat ke sekolah.

2.Membuat tulisan kata-kata ungkapan rasa sayang

Ungkapan sayang juga bisa diberikan melalui tulisan. Misalnya pada moment-moment tertentu seperti hari ulang tahun atau ketika hari ibu. Sang anak bisa menuliskan ungkapan sayangnya kepada sang ibu memalui secarik kertas atau kartu ucapan. Contohnya, “Selamat hari ibu, aku bahagia memiliki ibu yang sangat hebat.  Aku menyayangi ibu”.

Lalu surat ini bisa diletakkan di meja kerja sang ibu atau di meja samping tempat tidur, atau dimana saja yang mudah terlihat oleh sang ibu. Pesan singkat yang anak tuliskan ini memang sangat sederhana namun ini sangat berarti bagi karena dapat membuat sang ibu merasa dicintai dan dihargai.

3.Membuat puisi

Ada anak yang terlalu malu untuk mengungkapkan perasaan sayang pada ibu secara langsung.  Lalu, ia membuat puisi untuk ibunya. Anak menuangkan semua perasaannya untuk ibu ke dalam rangkaian kata-kata sehingga membentuk kalimat yang indah. Lalu, anak bisa memberikan puisi tersebut kepada sang ibu atau membacakannya di depan sang ibu.

4.Membuat gambar/lukisan

Membuat gambar atau lukisan juga bisa dilakukan sebagai bentuk ungkapan cinta kepada orangtua. Anak yang mempunyai hobi menggambar mungkin akan terasa lebih mudah dan menyenangkan mengekspresikan perasaannya dengan cara ini. Contohnya, anak bisa menempelkan hasil gambarnya pada kulkas, dan tidak lupa juga menuliskan pesan singkat pada gambar “Aku sayang ibu” atau “Aku merasa sangat beruntung memiliki ibu”.

5.Memberi hadiah

Memberikan hadiah juga merupakan salah satu cara untuk mengungkapkan perasaan sayang kepada ibu. Hal ini tidak hanya bisa dilakukan di momen spesial saja. Memberikan hadiah bisa dilakukan kapan saja kita mau. Ada anak yang bisa menyisakan sebagian dari uang saku untuk membelikan  hadiah untuk sang ibu.

Tidak perlu hadiah yang mahal karena pada dasarnya bukan harga dari barang tersebut yang membuat sang ibu bahagia. Akan tetapi, niatnya dan ungkapan yang rasa sayang yang diterima sang ibulah yang membuat bahagia. Sebagai contoh, anak bisa membelikan makanan kesukaan ibu atau juga bisa memberikan setangkai bunga untuk ibu.

6.Membuatkan kue/masakan

Ungkapan rasa sayang juga bisa ditunjukan melalui aktivitas yang dilakukan bersama-sama. Aktivitas yang dilakukan bersama antara ibu dan anak dapat membangun ikatan emosional yang lebih kuat atau yang biasa disebut dengan kelekatan (attachment). Kelekatan (Attachment) merupakan ikatan emosional yang positif antara seorang anak dengan ibu.

Kelekatan yang terbentuk secara alami sejak bayi ini dapat  memengaruhi hubungan individu tersebut dengan orang lain hingga akhir hidupnya. Itulah sebabnya aktivitas yang dilakukan bersama-sama antara ibu dan anak dapat meningkatkan ikatan emosional dan menunjukkan perasaan saling mengasihi satu sama lain. Sebagai contoh, aktivitas yang bisa dilakukan antara ibu dan anak perempuannya adalah dengan masak bersama atau sekadar membuat kue. Sedangkan aktivitas yang bisa dilakukan sang ibu dengan anak lelakinya seperti bersepeda bersama atau lari pagi bersama.

7. Mendoakan ibu

Mendoakan merupakan salah satu cara anak untuk berbakti kepada sang ibu. Hal ini juga dianjurkan di dalam beberapa kitab suci. Mendoakan keselamatan dan kesehatan bagi ibu dapat dilakukan kapan saja, terlebih ketika sedang beribadah.

8. Memberikan kejutan kecil

Berikan kejutan-kejutan kecil untuk sang ibu. Tidak harus dihari specialnya saja.  Anak bisa melakukan di hari-hari biasa, misalnya mengajak Mama makan siang bersama di sela-sela kesibukan.

9. Mengambil alih pekerjaan rumah tangga

Sesekali melakukan pekerjaan rumah tangga yang selalu dilakukan oleh ibu seperti mencuci piring, mengepel, memasak dan membersihkan rumah juga dapat dilakukan sebagai ungkapan rasa sayang terhadap ibu. Dengan melakukan semua pekerjaan ini artinya kita memberikan ibu waktu untuk beristirahat dari rutinitas yang selalu ia lakukan dengan baik. Ibu akan merasakan bahwa anak menyayanginya.

10. Berikan pelukan sebagai ungkapan sayang

Kontak fisik merupakan hal yang paling sederhana yang bisa anda lakukan untuk mengungkapkan rasa sayang terhadap ibu. Anak dapat memberikan pelukan dan ciuman kepada ibu dan katakan “Aku menyayangi ibu” atau sekadar mengatakan “ Aku kangen sekali dengan ibu”. Meskipun sangat sederhana namun pelukan dapat memberikan makna yang dalam untuk mengekspresikan rasa sayang. Ibu dapat merasakan betapa tulus rasa sayang anak terhadapnya.

Namun sebaliknya, jika orangtua jarang mengekspresikan rasa sayang dan cintanya atau justru lebih sering menggunakan kalimat negatif dalam pola pengasuhan, dapat membentuk karakter anak menjadi anak yang tidak percaya diri, kurang memiliki rasa empati, mudah cemas dan merasa insecure (tidak aman).(hil)

Foto: freepik.com

Rasa Sayang Tumbuhkan Emosi Positif Anak

Konon ada yang bilang, orang Indonesia masih kurang terbiasa mengespresikan rasa sayang pada keluarga, termasuk pada ibunya.

Ekspresi rasa sayang adalah suatu bentuk komunikasi yang diwujudkan dalam sebuah tindakan yang bertujuan untuk meluapkan emosi positif seperti rasa cinta dan kasih sayang.

“Kasih sayang merupakan basic need dari setiap individu dan secara alamiah sudah ada sejak lahir. Karena kasih sayang lah kita hadir di dunia ini.”

Rasa sayang ini harus terus dikembangkan dengan cara yang tepat. Seperti yang dikemukakan tokoh psikologi Abraham Maslow dalam teori hierarkinya bahwa manusia memiliki lima kebutuhan dasar  yang meliputi kebutuhan fisiologis, kebutuhan akan rasa aman, kebutuhan akan kasih sayang, kebutuhan akan harga diri serta kebutuhan untuk aktualisasi diri.

Pertama, Kebutuhan fisiologis merupakan kebutuhan yang berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti makan, minum, udara untuk bernapas, istirahat, buang air besar dan kecil. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi maka tubuh akan menjadi rentan terhadap penyakit sehingga proses untuk menuju kebutuhan selanjutnya akan terhambat.

Kedua, kebutuhan akan rasa aman yaitu kebutuhan akan keadaan yang aman dan stabil. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka akan muncul rasa cemas dan takut pada diri manusia. Ketiga, kebutuhan kasih sayang dan rasa memiliki (love and sense of belonging). Kebutuhan ini dapat terlihat dari usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman serta menjadi bagian dari suatu kelompok atau komunitas tertentu. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi makan akan muncul rasa kesepian (loneliness).

Keempat, kebutuhan akan harga diri (self esteem). Terdapat dua jenis dalam kebutuhan ini yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi maka dapat menimbulkan perasaan rendah diri dan inferior.

Kelima, kebutuhan aktualisasi diri yaitu berkaitan dengan keinginan untuk mengembangkan potensi diri. Dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan potensi yang ada didalam dirinya  dengan optimal.

MULAI DARI ORANGTUA

Ungkapan atau ekspresi rasa sayang dapat dilakukan dengan banyak cara. Agar anak bisa mengekspresikan perasaan sayangnya kepada orangtua tentunya orangtua juga harus mampu memberikan contoh kepada sang anak. Pada dasarnya anak akan belajar dari apa yang ia lihat didalam lingkungannya. Anak akan meniru apa yang dilakukan, bukan melakukan apa yang dikatakan (diperintahkan).

Jadi buang jauh-jauh prinsip “do as I say, not as I do “. Ekspresikan rasa cinta Anda terhadap anak secara langsung. Tunjukkan rasa senang, bangga dan dukungan kepada sang anak. Pasalnya, perasaan dicintai akan membangkitkan emosi positif pada otak dan berpengaruh pada kemampuan untuk merasakan bahagia di kemudian hari. Jika anak merasa dicintai dan bahagia maka akan mudah pula bagi anak untuk mengungkapkan atau mengekspresikan perasaan sayangnya kepada orangtua.(hil)

Foto: freepik.com

8 Cara Mengatasi Anak ‘Keras Kepala’

Kesal ya Mam, ketika kita dihadapkan pada anak yang ‘keras kepala.’ Kadang kita jadi mati gaya, tak tahu apa harus dilakukan.

Tentunya, kita harus memahami alasan kenapa anak berperilaku seperti itu. Nah, yuk Mam simak tips berikut:

1.Anak berkemauan keras adalah pembelajar melalui pengalaman. Sebagai contoh, untuk mempercayai bahwa kompor itu panas maka ia perlu mendekati kompor agar dapat merasakan sensasi panas di sekitar alat tersebut. Maka lebih efektif untuk membiarkan ia belajar melalui pengalaman, daripada kita mengontrolnya. Hal ini seringkali menguji batas kesabaran kita, namun pahamilah bahwa begitulah cara ia belajar.

2.Anak berkemauan keras ingin penguasaan lebih dari apapun. Biarkan dia mengambil alih kegiatannya sendiri sebanyak mungkin. Hindari terlalu banyak menyuruhnya, akan tetapi kita bisa mengingatkannya.

3.Berikan pilihan kepada anak. Jika Anda memberikan perintah, ia akan hampir pasti menolak. Sedangkan jika kita memberikan pilihan maka anak lebih senang bekerja sama. Ia merasa mampu mengambil keputusan sendiri dan bertanggungjawab atas pilihannya.

4.Beri mereka otoritas kebebasan akan dirinya sendiri. Sebagai contoh, anak tidak mau memakai jaket. Kita bisa memberikannya kemungkinan-kemungkinan, misalnya mengatakan,”Kalau nanti hujan dan kamu tidak memakai jaket kira-kira apa yang akan terjadi? Kalau nanti kamu kehujanan, kira-kira akan sakit atau tidak?

5.Hindari memaksa anak jika ia tidak mau mengikuti arahan kita. Hal tersebut hanya akan membuat anak menentang orangtua. Orangtua memiliki peluang yang besar untuk memenangkan perdebatan, hanya saja hal tersebut akan merusak hubungan anak dan Anda. Tenangkan diri anda lalu tarik napas dalam-dalam selanjutnya berikan anak penjelasan dengan cara komunikasi yang baik.

6.Luangkanlah waktu Anda untuk mendengarkan apa yang anak inginkan. Kebutuhan anak sebenarnya tidak banyak. Ia menginginkan perhatian dan kasih sayang Anda sebagai orangtua. Kasih sayanglah yang bisa meminimalisasi kebutuhan anak pada sesuatu hal yang bersifat “materi”.

7.Memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak.

Pentingnya memilih waktu yang tepat untuk menasehati anak, dimana ia tidak merasa terpaksa untuk mendengarkan pesan moral yang disampaikan orangtua. Disini orangtua harus pintar membaca situasi dan karakter anak, kira-kira pada saat kapan anak bisa diajak bicara dan menjadi pendengar yang baik.

8.Memberikan fasilitas sebagai media untuk menyalurkan hobi anak.

Setiap anak memiliki minat dan bakat yang berbeda. Para orangtua harus bisa peka dalam melihat hal ini. Hindari memaksakan minat orangtua kepada anak. Namun orangtua perlu menyalurkan minat dan potensi anak.

Dengan menyalurkan apa yang menjadi hobinya, anak senantiasa akan terus bergerak dan sisa energinya akan tersalurkan kepada hal-hal yang positif. Ini akan membuat anak terhindar dari keadaan bosan, mudah marah, sedih, dsb.

Yang jelas, sikap keras kepala tidak akan menghilang dengan sendirinya namun perlu arahan dan didikan orangtua. Peran pola asuh sangat penting untuk membentuk karakter anak. Orangtua perlu memberikan contoh yang baik kepada sang buah hati untuk terbuka terhadap kritik dan masukan dari orang lain. Termasuk juga orangtua bisa menerima kritik dari anak. Alhasil, ia un dapat meniru sikap orangtua untuk terbuka terhadap arahan dan saran dari orang lain.

Bila dibiarkan dan dihadapi dengan baik, strongwilled child ini tentunya akan menjadi:

  1. Anak akan tumbuh menjadi seorang yang pembangkang dan sulit diatur. Ia akan melakukan hal-hal yang diinginkan tanpa pikir panjang sehingga dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
  2. Anak sulit menerima keadaan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Hal ini membuatnya menjadi marah, sedih yang berlebihan dan menyalahkan keadaan.
  3. Anak akan berupaya mendapatkan apa yang diinginkan dengan cara apapun. Keyakinan dan semangatnya yang besar untuk mendapatkan sesuatu membuat ia menghalalkan segala cara untuk mendapatkan sesuatu.
  4. Seringkali memicu keributan dan membuat hubungan anak dan orangtua menjadi kurang harmonis. (hil)

Foto: freepik.com

Kenapa Sikap Anak Keras Kepala?

Adakalanya seorang anak kukuh dengan keinginan atau pendapat pribadinya. Padahal ibu tak setuju dengan hal itu. Misalnya, ketika ia diajak pergi ke suatu undangan pernikahan, anak berkeinginan memakai baju kaus bergambar kartun favoritnya. Padahal, ibu sudah menyiapkan beberapa alternatif kostum untuk dipililh si kecil yang lebih cocok untuk dikenakan ke acara itu. Walau sudah diberi tahu,  tetap saja ia ngotot dengan pilihannya.

Tak terkecuali, hal-hal kecil pun bahkan bisa menjadi masalah besar dan  berbuah ‘pertengkaran’ antara ibu dan anak. Tak sedikit orangtua yang kemudian melabel dengan sebutan anak sulit, suka menantang aturan, suka melawan, atau anak keras kepala yang dalam bahasa ilmiah disebut strongwilled child.

Sikap seperti itu umumnya ditunjukkan anak usia 2-5 tahun.  Ini adalah fase yang sangat alami pada masa pertumbuhan kejiwaan anak. Ia berada pada fase dimana mulai menyadari bahwa dirinya adalah pribadi yang independen dari orang-orang dewasa terutama orangtuanya.

Ada beberapa kemungkinan faktor pemicu yang membuat anak berperilaku keras kepala, di antaranya adalah:

  1. Boleh jadi anak meniru perbuatan orangtuanya yang juga keras kepala atau anak sering menyaksikan orangtuanya bertengkar.
  2. Orangtua terlalu memanjakan, selalu memberikan apa yang diinginkannya. Nah, ketika suatu saat keinginan tersebut tidak dipenuhi, tentu anak akan memprotes dan melawan.
  3. Kurangnya ikatan kasih sayang dan pengertian antara orangtua dan anak.
  4. Orangtua terlalu membiasakan anak patuh pada sesuatu secara fanatik.
  5. Anak terlalu sering disuruh mengalah, tanpa memberi pengertian yang dapat membuatnya mengerti.

PRIBADI BERSEMANGAT

Terlepas dari label negatif yang disandang sang anak ini, menurut Nicky sebenarnya anak yang berkemauan keras seperti itu adalah pribadi yang  bersemangat dan berani. Ia memiliki integritas yang tak mudah terombang-ambing. Ya, pasti ada plus-minusnya.

             Ada beberapa ciri anak yang tergolong berkemauan keras, yaitu:

  1. Lebih aktif. Misal, ia mampu berlari lebih cepat, melompat lebih tinggi dan berputar lebih lama
  2. Lebih tidak sabaran. Ia tidak suka berbagi dan bergantian
  3. Lebih impulsif. Ia sulit mengontrol dorongan sehingga ingin mendapatkan sesuatu secara cepat.
  4. Lebih tidak mau nurut. Misal, ia akan lari menuju keramaian, melihat orangtua sekilas, kemudian berlari lagi ke jalanan.
  5. Lebih keras sikapnya. Ia mudah marah. Juga ia tetap menangis walau keinginannya sudah dipenuhi.
  6. Lebih intense. Kalau sedang senang tampak gembira sekali. Begitupun kalau sedang sedih tampak sedih sekali. Begitu juga kalau marah.
  7. Lebih sensitif. Perasaannya lebih mudah tersinggung atau tersakiti.

Plus dan minus lain dari strongwilled child adalah:

  1. Bersemangat tinggi. Saat ia mengingkan sesuatu, ia berupaya keras untuk mendapatkannya. Ia memiliki keyakinan untuk mampu meraihnya.
  2. Sulit diatur. Ia memilih keinginannya sendiri dan merasa bertanggungjawab akan dirinya sendiri sehingga tidak suka diatur.
  3. Jika diasuh dengan sensitif, ia tumbuh menjadi sosok yang hebat, mampu memotivasi sendiri dan terarah. Ia mengejar impiannya dan hampir selalu tahan banting terhadap tekanan teman sebaya. Selama orangtua menahan diri untuk tidak mematahkan keinginannya maka anak berkemauan keras dapat menjadi pemimpin.
  4. Anak berkemauan keras seringkali ingin belajar sendiri daripada menuruti apa yang orang lain katakan. Ia angat ingin ‘in-charge’ dalam urusannya dan kadang ingin merasa benar diatas segalanya.
  5. Anak berkemauan keras memiliki integritas sehingga tidak mudah goyah pendiriannya.

(hil)

Foto: freepik.com

Yuk, Mengenal Potensi Karakter Anak Melalui Tulisan Tangannya

Mam, seringkah memerhatikan hasil tulisan Si Kecil? Tentunya bukan sekadar melihat apakah tulisanya bagus atau jelek, ya! Akan tetapi, ada kemampuan anak dalam menulis akan berdampak pada kemampuannya membaca dengan cepat. Kok, bisa?

Begini penjelasannya, Mam. Saat anak menulis, ada bagian otak yang disebut RAS (Reticular Activating System) yang akan mendapatkan rangsangan positif. RAS ini merupakan filter untuk memproses segala hal yang masuk ke dalam otak baik secara conscious (alam sadar) maupun secara unconsious (alam bawah sadar).

Nah, jadi yang kita ‘nilai’  bukan hanya tulisannya bagus atau jelek. Akan tetapi ketika tulisan anak rapi atau tidak, hal itu akan berpengaruh terhadap karakternya di kemudian hari.

Terkait hal tersebut, sebuah studi tentang neuroscience (ilmu yang mempelajari tentang otak manusia) menunjukkan bahwa area otak yang terkait dengan pembelajaran akan semakin produktif ketika seorang anak menuliskan kata yang ingin mereka pelajari.

Sebut saja salah satunya, pada bagian otak besar anak. Celebral cortex mengendalikan kemampuan anak dalam mengingat, perhatian atau fokus, dan kemampuan bahasa.

Kemudian, basal ganglia, bagian otak besar ini berperan pada intelegensi (kecerdasan intelektual, spritual dan moral) pada anak. Basal ganglia juga mengendalikan memori anak.

Graphology, Gali Potensi Anak

Graphology merupakan keilmuan yang menggunakan tulisan tangan sebagai sampel untuk untuk menggali banyak hal tentang bakat, potensi seorang anak dan lain sebagainya.

Melalui tulisan tangan, Mama juga bisa membentuk karakter anak. Graphology dengan graphoterapy-nya membantu banyak hal termasuk tentang penanaman-penanaman karakter baik.

Apakah hal tersebut akan menjadikan anak sempurna? Perlu dipahami, menanamkan karakter baik pada anak bukan berarti menjadikan mereka sebagai robot. Tetapi, justru membantu mereka lebih mudah menemukan apa saja yang diinginkan. Mereka bisa menjadi diri sendiri dan memiliki kemampuan untuk mengoptimalkan karakter-karakter baik yang ada di dalam dirinya.

Menariknya, graphology bukan hanya memahami tulisan tangan, tetapi juga bisa melakukan terapi terhadap tulisan ini.

Hal-hal yang harus Mama perhatikan adalah :

  1. Ketika nanti meminta anak menulis, tulislah di kertas tanpa garis. Kenapa? karena dia akan lebih bebas menuangkan pikirannya tanpa ada batasan (garis).
  2. Tulislah dengan balpoint (jangan yang gel).
  3. Minta ia menceritakan apa yang dirasakan dan dipikirkannya. Bukan menyalin tulisan, ya Mam.

Nah, setelah itu baru bisa kita lihat dan mencoba menjadi ‘paranormal’. Yuk, Mam kita mulai, ini hal-hal yang perlu kita perhatikan :

  1. Kertas itu putih bersih seperti seorang anak yang baru lahir. Ketika kita menggoreskan tinta, itu menandakan bahwa mulai diisi oleh berbagai pengaruh dari lingkungannya. Yang perlu diperhatikan adalah ketika menulis bagaimana jarak antara sisi kertas kiri dengan tulisan,  atas dengan tulisan, kertas bawah dengan tulisan dan kanan dengan tulisan. Perlu diingat ya maknanya: kiri adalah masa lalu, kanan itu masa depan, atas optimis dan bawah pesimis itu kata kuncinya.
  2. Garis dasar tulisan itu ada datar, naik atau turun. Kalau datar, biasa emosinya biasa saja. Bila turun artinya kondisi tidak percaya diri atau pesimis. Bila naik berarti pede dan optimis. Namun garis dasar itu nanti bisa saja tidak semuanya turun. Bisa jadi, ketika pada tulisan kata tertentu saja yang turun. Nah Mam perhatikan, pada kata mana terlihat turun. Hal itulah yang menunjukkan kondisi tres atau masalah yang sedang dihadapinya.
  3. Banyaknya coretan atau tinta meluber itu menunjukkan kecemasan
  4. Tulisan memiliki 3 zona yaitu: zona atas, zona tengah, dan zona bawah. Zona atas adalah huruf yang ada tangkai ke atas seperti b,d,f,h,k,l,t. Zona tengah adalah a,c,e,i,m,n,o,r,s,u,v,w,x,z. Lalu, Zona bawah yaitu g.j,p,q,y

Zona atas berarti ingat kepala. Apa isinya? Intelektual dan imajinasi. Zona tengah itu dari leher ke pinggang menunjukkan  emosi. Lalu, zona bawah itu isi seputar dompet dan biologis, artinya seks dan materi. Di setiap zona ada lingkaran ya. Bila lingkaran tertutup, maka itu berarti adda hambatan.

  • Kemiringan tulisan. Jika tulisannya miring ke kiri, maka dia cenderung menarik diri, kurang ekspresif dan mungkin juga ada masa lalu yang belum terselesaikan. Sementara, bila tulisanya miring ke kanan itu berarti ekspresif, percaya diri. Namun jika semuanya ekstrem miring ke kanan berarti ada masalah.
  • Besar kecilnya tulisan juga bisa kita lihat.  Kalau tulisannya terlalu kecil, mungkin dia minder. Kalau tulisannya besar, anak pede. Tapi kalau tulisannya terlalu besar, anak  agak over pede.
  • Perhatikan tekanan ketika ia menulis. Kalau terlalu ditekan berarti energinya besar. Kalau tekanannya tipis berarti energinya kecil.
  • Sebaiknya anak diminta menulis sambung agar dinamikanya terlihat. Tulisan sambung itu sangat penting untuk fondasi awal menulis.

Tak kalah penting, perlu diingat bahwa postur tubuh membuat anak lelah menulis karena tak ada dukungan dari otot tubuhnya. Karena itu, pastikan dan jaga posisi duduk 90 derajat, ya.

Nah, kita perhatikan dari sisi zona, ya. Lihat dari zona di atas ketika dia bicara hobi zonanya bawah itu artinya dia tahu tujuan ke depannya untuk mendatangkan materi. Bila yang bawah itu langsung berubah jadi zona tengah berarti dia mulai galau.

Bila dilihat dari kemiringan: kanan-kiri, berarti anak sedang moody. Contoh, bila tulisan agak miring ke kiri dan hurufnya kecil lama-lama besar, berarti pada awalnya kurang pede. Tapi kalau sudah lama kenal dia lebih pede. Namun perhatikan ada masalah yang belum terselesaikan.

Bila tulisan miring ke kiri berarti anak pada dasarnya kurang ekspresif dan tertutup. Dia hanya percaya dengan orang yang nyaman dengan dirinya. Kalau dilihat adri ketebalan tulisan, berarti punya energi.

Pertanyaannya adalah apakah tulisan anak di usia ini ini dapat menggambarkan karakternya, sedangkan ia dalam masih tahap belajar menulis? Nah, justru itulah pentingnya tahap usia ini untuk memperbaiki postur tubuh dan posisi menulis. Penting sekali kita menstimulasi otak anak dan memperbaiki postur menulis karena akan berpengaruh pada karakter, emosi dan perilakunya di masa mendatang.

Lalu, apakah bila anak beranjak besar, tulisannya akan berubah dan berpengaruh pada perubahan kepribadiaannya kelak? Ya, tulisan berubah maka kepribadian berubah. Ada contoh kasus. Ada seseorang yang pendiam, berusia 45 tahun. Ia merasa bingung karena profesinya harus dirotasi dari akunting menjadi marketing. Nah, yang dilakukan adalah mengubah tulisan tangan dan tanda tangannya. Sekarang ia sudah berubah menjadi sosok yang ‘super bawel’. Jadi sekali lagi, memperbaiki postur dan cara menulis akan berdampak pada tulisan dan juga pola perilakunya kelak. (Hil)

Narasumber: Bunda Lucy

Foto: freepik.com